REFLEKSI KELULUSAN UN
Oleh: Yosi Muhaemin, S.Pd.
Pengumuman kelulusan UN SMA/SMK di Jawa Tengah yang dilaksanakan pada hari senin (16 Mei 2011) kemarin meninggalkan berbagai pertanyaan. Beberapa saat setelah kelulusan diumumkan, respon para siswa beragam, ada yang menangis haru, meloncat gembira, bahkan ada yang sujud syukur. Setelah itu, seakan sudah direncanakan sejak lama, siswa serentak menuju sepeda motor mereka masing-masing dan mulai melakukan konvoi di jalan raya. Tidak hanya itu, baju mereka juga menjadi sasaran dari warna-warna semprotan dan tandatangan. Konvoi ini tidak hanya dari satu sekolahan, tetapi gabungan dari berbagai sekolahan yang kebetulan satu daerah. Lalu apa masalahnya?
Ekspresi kegembiraan dan keharuan karena suatu keberhasilan tentunya dimiliki oleh setiap orang. Hanya saja, persoalannya pada cara siswa mengekspresikan kegembiraan. Mereka seakan tidak peduli bahwa perbuatan mereka mengganggu masyarakat umum. Dalam satu motor dinaiki 3 anak, ada yang 2 anak (laki-laki dan perempuan). Antara laki-laki dan perempuan seakan bebas di jalanan tanpa etika. Anehnya lagi, tidak sedikit dari para guru yang merasa bahwa ekspresi mereka wajar alias dimaklumi karena masih remaja. Padahal, jika kita cermati lebih dalam dengan menggunakan hati, ada beberapa makna implisit dari perilaku dan ekspresi mereka.
Pertama, kegembiraan mereka yang ‘berlebihan’ menyiratkan bahwa mereka seakan lepas dari sebuah kepenatan. Dengan kalimat lain, belajar selama 3 tahun bagi mereka adalah masa-masa yang menjenuhkan. Mereka seolah telah bebas dari sesuatu yang membelenggu. Inikah simbol dari suatu kemenangan? Terhadap apa?
Kedua, mengapa pihak sekolah atau institusi pendidikan seakan membiarkan ekspresi siswa. Mengapa fungsi kontrol pendidikan begitu lemah dalam mengantisipasi perilaku anak didiknya. Benarkah keberhasilan dalam pendidikan hanya diukur dari kelulusan UN?
Padahal, salah satu tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No.20 Tahun 2003, pasal 3). Mencermati fenomena pada saat pengumuman kelulusan, dunia pendidikan di Indonesia perlu melakukan refleksi. Sishttp://www.blogger.com/img/blank.gifwa merasa merdeka setelah lulus, berarti selama 3 tahun belajar, ada kemungkinan mereka jenuh atau tidak ada motivasi pada diri mereka untuk menyenangi belajar. Tingkah laku mereka juga tidak menyiratkan manusia yang berakhlak mulia. Secara jasmani mereka sehat, tetapi secara rohani? Dalam hal ini, perlu ada upaya pencegahan melalui proses pembelajaran supaya selama 3 tahun mereka menjadi manusia yang bersyukur dengan cara yang baik. Oleh karena itu, guru sebaiknya tidak hanya fokus pada sisi kognitif anak, tetapi juga afekif dan psikomotorik yang terakomodir dalam mata pelajaran akhlak mulia, estetika, dan kewarganegaraan. Ini bukan sekedar teori atau konsep kebijakan pemerintah belaka, melainkan perlu diaplikasikan oleh seluruh komponen pendidikan di nusantara.
SILAKAN DOWNLOAD
Yosi M Giri
Salam Indonesia, Selamat Datang di Padepokan Giri, semoga perjalanan maya Anda menyenangkan...
Minggu, 22 Mei 2011
Selasa, 26 Oktober 2010
SAJAK-SAJAK
YOSI M GIRI
Mengapa Begitu
Banjir yang melautkan kota dan desa-desa
Mengapa hujan disalahkan
Bukankah ia ada sejak milyaran tahun yang lalu
Mengapa mesti hujan disedihkan
Tumbang ngambangnya pohon dan huni alam
Bukan karena akarnya tak lagi menyakar
Bukan pula karena murka alam
Tetapi dendam dan nakalnya hati dan tangan kita
Yang tak mau diam mengkhidmati
Apa yang ditangkap mata
Lalu semena-mena
Kita menjadi rampok bagi keteraturan bumi
Diam-diam kita selalu membikin tengkar
Dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain
Mengapa kita menjadi begitu binal
Menggeliat ketika diminta tawaqal
Mengapa kita begitu sangsi
Meski segala kepayahan kita bikin sendiri
Pemalang, 24 Februari 2010
YOSI M GIRI
Hanya Menduga
Ketika pagi,
kau merasa menyentuh matahari
begitu dekat sejarak helai rambutmu yang baru dikeramas
Semalaman kau perang,
memorakporandakan bala kurawa
yang hendak mengambil perempuanmu
ketika mandi kembang setaman di tepi telaga
Membenahi letak dipan dan sprei,
kau merasakan sebentar lagi ujung dunia
menyambutmu dengan senyum nakal
tapi,
kita tak pernah benar-benar beranjak
dari kulit kita yang selalu asam
dan kau bilang: hanya menduga
Pemalang, Januari – Februari 2010
YOSI M GIRI
Bagaimana Caranya Aku Berdusta
bagaimana caranya aku berdusta
sementara depan mata, takdirmu termangu-mangu
menimbang-nimbang kerinduan pada arah angin
juga bekas kecupan di lehermu
menandakan seorang lelaki dipaksa memejamkan hati
dan menerka-nerka dan merekayasa perasaan
bagaimana caranya aku berdusta
sementara gelas-gelas jiwaku penuh luka
nganga tak berselimut apa pun
hanya dendam yang aus dirubung getaran
antara kenangan dan lembaran depan yang samar
bagaimana caranya aku berdusta
jika tangan, kaki dan hati terus dikuliti cahaya
bersandar di batu pun aku kena
Pemalang, Februari 2010
Yosi M Giri
Mencari Ladang
Ladang manakah yang masih mau basah
Sedang ranting makin rentan dan mau patah
Maukah tanah sejenak menata mata
Biar benih-benih rekah gembira menemu lubuknya
Aku melihat sangsi di balik sesinggungan
Berpura simpulkan senyum
Sekedar memagar diri dari kutukan eros
Kutukan yang pernah membuat langit menjadi sangat baik
Untuk menyerahkan tubuhnya berubah cokelat kering daun
Meski pencarian tak mesti menemukan
Melainkan sendau gurau para pemetik di ladang, tak lain.
Purwokerto, Mei 2010
YOSI M GIRI
Anak-Anak Peti 2
Banjir lagi negeriku,
Air hujan yang bah, gelombang yang akut,
Dan luapan sungai yang bikin takut
Banjir lagi negeriku,
Airmata yang riuh dalam samar gemuruh
Lagi-lagi anak-anak peti kembali sebagai bangkai
Mereka, yang berjuang atasnama merah putih
Demi devisa negeri yang tak kunjung diperhatikan negeri
Mereka, yang dijual seperti daging-daging panggang
Dan tuhan keadilan telah dibunuh pelan-pelan
Oh, bukan kematian di tangan mereka
Anak-anak peti selalu saja diukir jadi budak negara, budak konglomerat asing,
Budak nafsu bagi siapa saja yang masih birahi atas kuasa dan pongah harta.
Dan hakim-hakim telah jadi patung Zeus,
Atau telah menjadi dongeng di pasar-pasar yang gelap
Oh, sistem yang terlalu tandus.
Pemalang, Desember-Januari 2009
YOSI M GIRI
Karna Kecil
Kau pun bertanya,
Bagaimana anak selemah itu
Mencukil-cukil dan menancapkan sebatang lidi pada batu-batu
Kau pun melihat,
Bagaimana keringatnya yang abu
Makin menggeliat di badan pecahan batu
Pelan-pelan mengalir melukis wajahnya sendiri
Senyum sang fajar yang menggetarkan getir dan sejarah di kening
Kau masih bertanya,
Bagaimana nasib anak sekumal itu
Mampu merubah laut menjadi gunung
Dan daratan menjadi surga bagi anak-anak yatim yang lain di waktu lain
Di sinilah akhirnya kau mencium jejak
Mendirikan rumah-rumah bagi bayi-bayi matahari
Di antara gelombang bumi yang semakin tak terduga
Menunggu berpulang bersama semesta
Bunga Pustaka, September 2009
YOSI M GIRI
Menimbang Angin
Menimbang angin antara Pemalang-Purbalingga-Banyumas
Ada kedekatan serupa dupa-dupa maharaja
Juga duka-duka di tiap gigir musim yang semu
Menuntut segala serupa hanya awal dari ketakabadian
Bagi bangunan-bangunan hidup
Jalan-jalan makin jauh
Pohon-pohon berubah menjadi beton-beton megah
Pada tapak-tapak kaki kita; matahari tergambar begitu menganga
Dan terompet kehancuran bagi jiwa yang kehausan makin mega
Bagai kumpulan pulau-pulau yang tak wajar
Angin masih sama, menyerukan dingin sesaat
Menjatuhkan daun dari pucuk-pucuk randu dan ketapang
Dan ribuan domba berlendir menggerutu padanya; pada angin.
Bunga Pustaka, September 2009
YOSI M GIRI
Menjelang Sahur
Lampu-lampu dan damar belum saya matikan
Biarlah terang sementara malam
Saya kaget begitu TOA menyeru
Dan bedug bertalu-talu
Ibu menyuruh memasak hati
Meski dapur masih sepi dari api
Saya pun memaklumi diri
Ibu yang sedari sore hanya di pembaringan
Jangankan membeli daging,
Memasak nasi satu liter saja mesti dibagi empat kepala
Empat kali satu hari
Bertahun-tahun selalu begitu melulu
Lagi, lampu-lampu enggan saya matikan
Saya rasa, masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan
Sebelum denyar-denyar matahari semakin runyam oleh sejarah rekayasa.
Pemalang, 2009
YOSI M GIRI
Mencari Sinta dengan Mabuk
Bicaralah Sinta,
agar mabukku menggila
telah kuratakan gunung serta bukitan
yang hampar halang jalanku
tapi tak temu dirimu
Bicaralah Sinta,
agar aku dengar muasal suaramu
telah kutimbun samudera dengan bukit-bukit batu
dan batang-batang pohon jati juga randu
tapi mabukku makin gila
tahukah langit makin mendung karena dukaku
tahukah dewa-dewa di surga hampir kupancung nadinya
karena mata dan tangan mereka membiarkan Rahwana mencuri keelokanmu
Bicaralah Sinta,
paling tidak dengan hatimu
biar mabukku makin gila
Rumah Giri, November 2009
YOSI M GIRI
Kepada Waktu
biarkan aku mendustaimu
demi matahari yang telanjang lentang
tubuhku mungkin kembali dikutuk jadi batu
tapi janganlah jiwaku
sepasang telinga dan bibir bisa lain
sepasang mata dan telunjuk bisa salah menduga
tapi persetubuhan kitalah
yang melahirkan matahari kecil
dan melepas kutukan-kutukan bisu
kini biarkan aku mendustaimu
Pemalang – Purwokerto, Oktober 2009
YOSI M GIRI
Adalah Samudera
Hidup,
Ombak yang tak sekedar lambaian daun-daun manggar
Membentang dari subuh wajahMu hingga sunset serupa apel
Membawa botol-botol duka doa yang terus berdenyaran
Merambati parau perahu kita masing-masing
Dengarkah,
Bunyi keretak dari tubuh perahu kita yang semakin tua
Dan kerlingan anak-anak minta diselamatkan
Dan seringkali kita tangguhkan: “mereka masih harus dipangkuan ibunya”
Dan waktu berlalu dengan tudung ragu-ragu
Meski tak semegah buatan Nuh
Kulayarkan juga perahu itu menuju pusar arus
Semoga bertemu jiwaku
Bunga Pustaka, 2009
YOSI M GIRI
GEROMBYANG PEMALANG
potongan-potongan bambu serupa gelas menjadi tempat kuah panas
bersama daging-daging doa bagi perut yang lapar dan aroma laut utara
antar asin Tegal dan Pekalongan dan kibaran layar-layar nelayan
ada garis pantai yang sulit kujelaskan
garis yang menarik kaki gunung Slamet dan merisaukan segala apa yang di sampingnya
tak kupercaya daging-daging itu menyimpan kediaman yang terlalu
tubuh-tubuh serupa paku
dan pujangga-pujangga kampung yang menghitung setiap laku manusia
dalam deretan hari-hari naas atau malam yang baik untuk bercinta
dengan dayang-dayang, atau dengan kembang-kembang
yang terpaksa melayukan kuncupnya demi senyum Ayah-Bunda
demi kepingan dan kertas-kertas yang tak jelas makna ujungnya
gerombyang itu masih hangat,
dan ritual penghulu kampung mengunyah mantra
mengunyah senyum kanak-kanak yang terpaksa dewasa
antara kemenyan dan bau daging kambing
Bunga Pustaka, 2009
YOSI M GIRI
Di Pelataran RumahMu
sajak yang telah kucuri dari langitMu
tak juga menjelma hujan mawar
atau sekedar menawarkan segelas bening mataair
bagi peminta ridha di tengah malam yang gusar
bahkan sajak yang telah kuwarnai sembilan puluh sembilan namaMu
tak juga memberi cahaya bagi rerumputan
tak sepadan dengan daun gugur dan tunas yang Kau tumbuhkan
tanpa setahuku setiap waktu.
apa yang mesti kubicarakan pada mereka,
anak-anak yang tinggal di perut Ibu
bahkan sajak ini pun tak mampu meredam mata api mereka
haruskah kuberi doa pada tiap baris sajakku
agar tiap degup jantung lahir sebuah tanya tanpa koma
: Kekasih yang begitu rahasia
Pemalang, Maret 2009
Mengapa Begitu
Banjir yang melautkan kota dan desa-desa
Mengapa hujan disalahkan
Bukankah ia ada sejak milyaran tahun yang lalu
Mengapa mesti hujan disedihkan
Tumbang ngambangnya pohon dan huni alam
Bukan karena akarnya tak lagi menyakar
Bukan pula karena murka alam
Tetapi dendam dan nakalnya hati dan tangan kita
Yang tak mau diam mengkhidmati
Apa yang ditangkap mata
Lalu semena-mena
Kita menjadi rampok bagi keteraturan bumi
Diam-diam kita selalu membikin tengkar
Dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain
Mengapa kita menjadi begitu binal
Menggeliat ketika diminta tawaqal
Mengapa kita begitu sangsi
Meski segala kepayahan kita bikin sendiri
Pemalang, 24 Februari 2010
YOSI M GIRI
Hanya Menduga
Ketika pagi,
kau merasa menyentuh matahari
begitu dekat sejarak helai rambutmu yang baru dikeramas
Semalaman kau perang,
memorakporandakan bala kurawa
yang hendak mengambil perempuanmu
ketika mandi kembang setaman di tepi telaga
Membenahi letak dipan dan sprei,
kau merasakan sebentar lagi ujung dunia
menyambutmu dengan senyum nakal
tapi,
kita tak pernah benar-benar beranjak
dari kulit kita yang selalu asam
dan kau bilang: hanya menduga
Pemalang, Januari – Februari 2010
YOSI M GIRI
Bagaimana Caranya Aku Berdusta
bagaimana caranya aku berdusta
sementara depan mata, takdirmu termangu-mangu
menimbang-nimbang kerinduan pada arah angin
juga bekas kecupan di lehermu
menandakan seorang lelaki dipaksa memejamkan hati
dan menerka-nerka dan merekayasa perasaan
bagaimana caranya aku berdusta
sementara gelas-gelas jiwaku penuh luka
nganga tak berselimut apa pun
hanya dendam yang aus dirubung getaran
antara kenangan dan lembaran depan yang samar
bagaimana caranya aku berdusta
jika tangan, kaki dan hati terus dikuliti cahaya
bersandar di batu pun aku kena
Pemalang, Februari 2010
Yosi M Giri
Mencari Ladang
Ladang manakah yang masih mau basah
Sedang ranting makin rentan dan mau patah
Maukah tanah sejenak menata mata
Biar benih-benih rekah gembira menemu lubuknya
Aku melihat sangsi di balik sesinggungan
Berpura simpulkan senyum
Sekedar memagar diri dari kutukan eros
Kutukan yang pernah membuat langit menjadi sangat baik
Untuk menyerahkan tubuhnya berubah cokelat kering daun
Meski pencarian tak mesti menemukan
Melainkan sendau gurau para pemetik di ladang, tak lain.
Purwokerto, Mei 2010
YOSI M GIRI
Anak-Anak Peti 2
Banjir lagi negeriku,
Air hujan yang bah, gelombang yang akut,
Dan luapan sungai yang bikin takut
Banjir lagi negeriku,
Airmata yang riuh dalam samar gemuruh
Lagi-lagi anak-anak peti kembali sebagai bangkai
Mereka, yang berjuang atasnama merah putih
Demi devisa negeri yang tak kunjung diperhatikan negeri
Mereka, yang dijual seperti daging-daging panggang
Dan tuhan keadilan telah dibunuh pelan-pelan
Oh, bukan kematian di tangan mereka
Anak-anak peti selalu saja diukir jadi budak negara, budak konglomerat asing,
Budak nafsu bagi siapa saja yang masih birahi atas kuasa dan pongah harta.
Dan hakim-hakim telah jadi patung Zeus,
Atau telah menjadi dongeng di pasar-pasar yang gelap
Oh, sistem yang terlalu tandus.
Pemalang, Desember-Januari 2009
YOSI M GIRI
Karna Kecil
Kau pun bertanya,
Bagaimana anak selemah itu
Mencukil-cukil dan menancapkan sebatang lidi pada batu-batu
Kau pun melihat,
Bagaimana keringatnya yang abu
Makin menggeliat di badan pecahan batu
Pelan-pelan mengalir melukis wajahnya sendiri
Senyum sang fajar yang menggetarkan getir dan sejarah di kening
Kau masih bertanya,
Bagaimana nasib anak sekumal itu
Mampu merubah laut menjadi gunung
Dan daratan menjadi surga bagi anak-anak yatim yang lain di waktu lain
Di sinilah akhirnya kau mencium jejak
Mendirikan rumah-rumah bagi bayi-bayi matahari
Di antara gelombang bumi yang semakin tak terduga
Menunggu berpulang bersama semesta
Bunga Pustaka, September 2009
YOSI M GIRI
Menimbang Angin
Menimbang angin antara Pemalang-Purbalingga-Banyumas
Ada kedekatan serupa dupa-dupa maharaja
Juga duka-duka di tiap gigir musim yang semu
Menuntut segala serupa hanya awal dari ketakabadian
Bagi bangunan-bangunan hidup
Jalan-jalan makin jauh
Pohon-pohon berubah menjadi beton-beton megah
Pada tapak-tapak kaki kita; matahari tergambar begitu menganga
Dan terompet kehancuran bagi jiwa yang kehausan makin mega
Bagai kumpulan pulau-pulau yang tak wajar
Angin masih sama, menyerukan dingin sesaat
Menjatuhkan daun dari pucuk-pucuk randu dan ketapang
Dan ribuan domba berlendir menggerutu padanya; pada angin.
Bunga Pustaka, September 2009
YOSI M GIRI
Menjelang Sahur
Lampu-lampu dan damar belum saya matikan
Biarlah terang sementara malam
Saya kaget begitu TOA menyeru
Dan bedug bertalu-talu
Ibu menyuruh memasak hati
Meski dapur masih sepi dari api
Saya pun memaklumi diri
Ibu yang sedari sore hanya di pembaringan
Jangankan membeli daging,
Memasak nasi satu liter saja mesti dibagi empat kepala
Empat kali satu hari
Bertahun-tahun selalu begitu melulu
Lagi, lampu-lampu enggan saya matikan
Saya rasa, masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan
Sebelum denyar-denyar matahari semakin runyam oleh sejarah rekayasa.
Pemalang, 2009
YOSI M GIRI
Mencari Sinta dengan Mabuk
Bicaralah Sinta,
agar mabukku menggila
telah kuratakan gunung serta bukitan
yang hampar halang jalanku
tapi tak temu dirimu
Bicaralah Sinta,
agar aku dengar muasal suaramu
telah kutimbun samudera dengan bukit-bukit batu
dan batang-batang pohon jati juga randu
tapi mabukku makin gila
tahukah langit makin mendung karena dukaku
tahukah dewa-dewa di surga hampir kupancung nadinya
karena mata dan tangan mereka membiarkan Rahwana mencuri keelokanmu
Bicaralah Sinta,
paling tidak dengan hatimu
biar mabukku makin gila
Rumah Giri, November 2009
YOSI M GIRI
Kepada Waktu
biarkan aku mendustaimu
demi matahari yang telanjang lentang
tubuhku mungkin kembali dikutuk jadi batu
tapi janganlah jiwaku
sepasang telinga dan bibir bisa lain
sepasang mata dan telunjuk bisa salah menduga
tapi persetubuhan kitalah
yang melahirkan matahari kecil
dan melepas kutukan-kutukan bisu
kini biarkan aku mendustaimu
Pemalang – Purwokerto, Oktober 2009
YOSI M GIRI
Adalah Samudera
Hidup,
Ombak yang tak sekedar lambaian daun-daun manggar
Membentang dari subuh wajahMu hingga sunset serupa apel
Membawa botol-botol duka doa yang terus berdenyaran
Merambati parau perahu kita masing-masing
Dengarkah,
Bunyi keretak dari tubuh perahu kita yang semakin tua
Dan kerlingan anak-anak minta diselamatkan
Dan seringkali kita tangguhkan: “mereka masih harus dipangkuan ibunya”
Dan waktu berlalu dengan tudung ragu-ragu
Meski tak semegah buatan Nuh
Kulayarkan juga perahu itu menuju pusar arus
Semoga bertemu jiwaku
Bunga Pustaka, 2009
YOSI M GIRI
GEROMBYANG PEMALANG
potongan-potongan bambu serupa gelas menjadi tempat kuah panas
bersama daging-daging doa bagi perut yang lapar dan aroma laut utara
antar asin Tegal dan Pekalongan dan kibaran layar-layar nelayan
ada garis pantai yang sulit kujelaskan
garis yang menarik kaki gunung Slamet dan merisaukan segala apa yang di sampingnya
tak kupercaya daging-daging itu menyimpan kediaman yang terlalu
tubuh-tubuh serupa paku
dan pujangga-pujangga kampung yang menghitung setiap laku manusia
dalam deretan hari-hari naas atau malam yang baik untuk bercinta
dengan dayang-dayang, atau dengan kembang-kembang
yang terpaksa melayukan kuncupnya demi senyum Ayah-Bunda
demi kepingan dan kertas-kertas yang tak jelas makna ujungnya
gerombyang itu masih hangat,
dan ritual penghulu kampung mengunyah mantra
mengunyah senyum kanak-kanak yang terpaksa dewasa
antara kemenyan dan bau daging kambing
Bunga Pustaka, 2009
YOSI M GIRI
Di Pelataran RumahMu
sajak yang telah kucuri dari langitMu
tak juga menjelma hujan mawar
atau sekedar menawarkan segelas bening mataair
bagi peminta ridha di tengah malam yang gusar
bahkan sajak yang telah kuwarnai sembilan puluh sembilan namaMu
tak juga memberi cahaya bagi rerumputan
tak sepadan dengan daun gugur dan tunas yang Kau tumbuhkan
tanpa setahuku setiap waktu.
apa yang mesti kubicarakan pada mereka,
anak-anak yang tinggal di perut Ibu
bahkan sajak ini pun tak mampu meredam mata api mereka
haruskah kuberi doa pada tiap baris sajakku
agar tiap degup jantung lahir sebuah tanya tanpa koma
: Kekasih yang begitu rahasia
Pemalang, Maret 2009
Kamis, 15 Juli 2010
CATATAN JULI 2010

SILUET BUNGA PUSTAKA BANYUMAS
Oleh: Yosi Muhaemin
Menjadi bagian dari perkembangan sastra di wilayah Banyumas adalah kebanggaan tersendiri bagi komunitas sastra Bunga Pustaka. Komunitas yang didirikan 7 Juli 2007 ini dapat disejajarkan dengan komunitas lain, seperti Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) di Purwokerto dan komunitas Gethek di Ajibarang. Meskipun tidak go internasional semacam Gethek (komunitasnya Edi Romadhon), Bunga Pustaka telah berperan melahirkan sastrawan-sastrawan muda yang hingga kini masih eksis di dunianya, seperti Arif Hidayat, Abdul Aziz Rasjid, Yosi M Giri, Restu Kurniawan, Inneke Eko, Dwi Setiyaningsih, Doni S Piningit, Aditya Wepe, Karyati, dan beberapa nama lain.
Pada tahun 2008, Bunga Pustaka bergerak mengembangkan kesusastraan pada sekolah-sekolah menengah di Banyumas dengan menyelenggarakan pelatihan penulisan dan bedah karya sastra. Sastrawan-sastrawan lokal yang ada di wilayah Banyumas pun digaet untuk berbicara langsung di hadapan siswa. Inilah yang berbeda dengan model Sastrawan Bicara Siswa Bertanya ala sastrawan Horison. Hal yang paling penting untuk dicatat jika kesusastraan hendak dimajukan ialah dokumentasi sastra penerbitan buku yang dilakukan oleh Bunga Pustaka.
Dokumentasi dan Tradisi Kritik
Dalam genre puisi, Bunga Pustaka menerbitkan beberapa buku, di antaranya: Syair-Syair Fajar (2007), Diorama Cinta (2008), dan Ketika Cinta Menengadah Doa (2009). Dalam genre prosa fiksi, di antaranya: Hani In Memories (2008), Lovinesha (2010), dan Cermin Jiwa (2010). Selain itu, Bunga Pustaka juga menerbitkan buletin Bupus yang memuat karya-karya sastrawan di wilayah Banyumas, baik nama-nama lama maupun nama-nama yang tergolong baru.
Namun demikian, di antara judul buku di atas, hanya Syair-Syair Fajar sajalah yang baru mendapat sentuhan apresiatif dan kritik dari esais Abdul Aziz Rasjid yang terpublikasi di buletin Littera (TBJT) dan Radar Banyumas. Hal ini mengimplikasikan bahwa Bunga Pustaka belum memiliki kesadaran yang penuh untuk membangkitkan tradisi kritik di Banyumas.
Dokumentasi dan tradisi kritik adalah dua aspek penting bagi usaha pengembangan kesusastraan. Nama Chairil Anwar tidak akan sebesar sekarang jika H.B. Jassin tidak ikut mengoyak-koyak karyanya di hadapan karya sastrawan lain. Iwan Simatupang pun demikian, tidak akan diketahui masyarakat Indonesia jika Dami N. Toha tidak mengeluarkan hasil kritikannya. Di sinilah, perlunya dokumentasi utuh dari para sastrawan Banyumas dan melahirkan kritik yang ilmiah, agar karya sastra tidak sekedar diproduksi secara massal belaka.
Peta Dokumentasi Sastra Banyumas
Setelah buku kumpulan puisi Melacak Jejak, tahun 1995 terbit buku Serayu yang dimotori komunitas Kancah Budaya Merdeka. Namun buku-buku tersebut hanya tersimpan di perpustakaan tanpa pernah dibicarakan lebih lanjut dalam forum-forum diskusi sastra. Adapun buku puisi Kata di Padang Tanya karya penyair Bambang Set yang terbit 1997 telah melahirkan dua skripsi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Namun demikian, hasil penelitian itu pun lagi-lagi hanya tersimpan di perpustakaan saja. Bahkan, ketika penulis bertanya langsung kepada penyairnya, ia tidak mengetahui kalau karyanya telah diapresiasi. Maka menjadi wajar, jika para penyair Banyumas sebenarnya kehilangan penilaian kritis yang sebenarnya dapat membantu mereka untuk mengembangkan konsep estetis dan estetika karya selanjutnya.
Nasib penyair Dharmadi sedikit beruntung, dengan bukunya Jejak Sajak yang terbit 2008 Dharmadi mendapat masukan-masukan kritis di antaranya melalui bedah di FISIP Universitas Jendral Soedirman dan Dewan Kesenian Kudus. Ditambah lagi, Dharmadi kini bermukim di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang ikut menopang eksistensinya dalam konstalasi sastra Indonesia.
Dokumentasi yang tidak kalah pentingnya selain yang diterbitkan dalam bentuk buku, ialah manuskrip. Banyak di antara sastrawan Banyumas angkatan 70-an hingga 80-an yang masih menyimpan hasil karyanya sendiri tanpa mempublikasikannya kepada masyarakat. Sebagai ‘anak-anak rohani’ sastrawan (meminjam istilah Pram), harusnya karya-karya itu dibebaskan untuk dibaca khalayak. Hal ini sekaligus PR yang harus diselesaikan oleh komunitas Bunga Pustaka dalam usianya yang belia, sebagai komunitas yang dibentengi oleh kalangan akademisi sastra yang nyata-nyata ‘paham’ konsep dan metode pengembangan sastra.
Kamis, 15 Januari 2009
ROMANTICAHOLIC DALAM PUISI PENYAIR MUDA BANYUMAS
Oleh: Yosi M Giri
Secara sederhana, manusia itu makhluk yang pelupa. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita semenjak kita dilahirkan di bumi, dan kesemuanya itu sedikit banyak terekam di batok kepala kita ini. Namun, akan menjadi sia-sia manakala semua peristiwa dan dinamika kehidupan itu luput untuk direnungkan. Perenungan demi perenungan yang kemudian meminta kita untuk menuliskannya itulah yang terjadi dalam diri filosof juga seorang sastrawan. Mereka mengetahui sesuatu yang tidak banyak orang menangkapnya.
Lamunan seorang filosof atau pun sastrawan tidak sama dengan lamunan seseorang biasa, meskipun memikirkan hal yang sama. Maka, akan terasa berbeda ketika kita mendengar keluhan seorang (yang bukan sastrawan) ketika mengalami persoalan-persoalan hidup jika dibandingkan dengan seorang sastrawan dalam ‘mengunyah’ persoalan. Sastrawan akan memeras jarik-jarik kehidupan hingga tetesan sari (inti kebijakan) itu tertampung dalam bejana.
Karya sastra, sebagai sebuah catatan (baik ukuran pribadi maupun kelompok), ia mendapat kedudukan sejarah bagi umat manusia. Apa yang diungkapkan oleh sastrawan sedikit banyak merupakan sebuah gambaran tentang keadaan, gejala-gejala juga problematika kehidupan di sekitar pengarang itu hidup. Karya sastra, se-fiksi apapun, ia tetap memiliki unsur-unsur faktual di dalamnya yang lewat bahasa figuratif hendak berbicara sesuatu.
Dalam pengertian yang demikian, sastra (puisi) dapat berfungsi sebagai memoria passionis, sebuah perlawanan terhadap lupa. Dalam puisi ‘Sajak Buku’, Arif Hidayat menawarkan sesuatu untuk kita tengok kembali, ialah sejarah (dalam diri kita dan di luar kita). Berikut kutipannya: seperti cerita lama/buku itu menunggu kita/untuk melihat keluasan dunia, dan yang terjelma, huruf-huruf yang kau eja/sejak masa kanak-kanak/menjadi serangkaian peristiwa.
Setiap peristiwa yang dialami manusia, melalui tangan penyair ditulis dengan penuh kearifan dan sedapat mungkin meninggalkan sebuah kehikmatan bagi pembacanya. Peristiwa, sepahit apapun tetap menawarkan pemahaman yang lebih dari sekedar senitimentil, ada nilai rasa. Ia bergerak meninggalkan pertanyaan yang pada fase tertentu kita sebut sebagai tahapan introspeksi diri, renungan atas tingkahlaku pada diri manusia. Dengan romantisme perenungan tentang hakikat diri dari waktu ke waktu itulah sebuah puisi disajikan.
Barangkali Restu akan ditolak Plato dari Republik-nya karena dalam puisinya menyertakan ungkapan sensual. Namun, sejalang apapun sebuah puisi tetap memiliki ke-grandeur-annya tersendiri. Ialah perasaan yang agung sebagai kesaksian atas dilema kehidupan. Ia menawarkan permasalahan-permasalahan untuk dipecahkan, bukan sesuatu yang sudah disimpulkan secara pasti. Inilah yang menjadi perenungan Restu dalam puisinya ‘Sebelum Hujan’: ada yang paling rahasia dalam tubuh kita yang telanjang/ketika saling mengingat setiap garis dan titik di setiap lekuk adalah usia. Ia menggambarkan manusia yang dalam fase-fase tertentu mengalami kecemasan karena usia. Saat manusia menunda percintaan sebagai ritual yang paling primitif sekalipun, yang muncul adalah kegelisahan. Bagaimana jika kita menjadi ‘pengantin paling senja’? Belum lagi rahasia tentang maut atau kematian yang bisa datang tiba-tiba. Dari kelalaian manusia terhadap waktu, perenungan yang ditawarkan Restu yang memoria passionis saat berhadapan dengan usia yang tidak mungkin selalu muda.
Berbeda dengan romantisme yang ditawarkan Faisal Kamandobat, ia membawa tubuhnya (corpus) tunduk pada entitas jiwa (animus) menuju hubungan dengan Ruh suci (daimon), sepeti Bima yang mencari Dewa Ruci. Perenungan ini tersirat dalam puisinya ‘Wasiat’: kata-kata, aku tak mampu/hidup lebih lama darimu:/ teruskan hidupku/gemakan jiwaku yang punah. Entah dalam kesempatan apa, di waktu apa dan di mana, Dobat melakukan perbincangan tentang hal yang sama dengan Sapardi Djoko Damono.
Sapardi pernah merenungkan hal itu, ia menyadari sepenuhnya bahwa hidup itu akan menemukan pemberhentiannya kecuali entitas jiwa yang ia titipkan pada puisi-puisinya. Pada suatu hari nanti/jasadku tak akan ada lagi/tapi dalam bait-bait sajak ini/kau takkan kurelakan sendiri. Seperti itulah, sastrawan melalui karya-karyanya berbincang tentang peristiwa masa lampau yang kemudian dihidangkan dengan perenungan-perenungan tentang hari yang bisa saja datang tiba-tiba, akhir kehidupan manusia di bumi. Bagaimana jika Nietzsche duduk bersama Arif, Restu, Faisal, dan Sapardi? Barangkali kita yang akan memeras tetesan-tetesan dari hidangan-hidangan yang mereka buat.
*Yosi M Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka.
Secara sederhana, manusia itu makhluk yang pelupa. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita semenjak kita dilahirkan di bumi, dan kesemuanya itu sedikit banyak terekam di batok kepala kita ini. Namun, akan menjadi sia-sia manakala semua peristiwa dan dinamika kehidupan itu luput untuk direnungkan. Perenungan demi perenungan yang kemudian meminta kita untuk menuliskannya itulah yang terjadi dalam diri filosof juga seorang sastrawan. Mereka mengetahui sesuatu yang tidak banyak orang menangkapnya.
Lamunan seorang filosof atau pun sastrawan tidak sama dengan lamunan seseorang biasa, meskipun memikirkan hal yang sama. Maka, akan terasa berbeda ketika kita mendengar keluhan seorang (yang bukan sastrawan) ketika mengalami persoalan-persoalan hidup jika dibandingkan dengan seorang sastrawan dalam ‘mengunyah’ persoalan. Sastrawan akan memeras jarik-jarik kehidupan hingga tetesan sari (inti kebijakan) itu tertampung dalam bejana.
Karya sastra, sebagai sebuah catatan (baik ukuran pribadi maupun kelompok), ia mendapat kedudukan sejarah bagi umat manusia. Apa yang diungkapkan oleh sastrawan sedikit banyak merupakan sebuah gambaran tentang keadaan, gejala-gejala juga problematika kehidupan di sekitar pengarang itu hidup. Karya sastra, se-fiksi apapun, ia tetap memiliki unsur-unsur faktual di dalamnya yang lewat bahasa figuratif hendak berbicara sesuatu.
Dalam pengertian yang demikian, sastra (puisi) dapat berfungsi sebagai memoria passionis, sebuah perlawanan terhadap lupa. Dalam puisi ‘Sajak Buku’, Arif Hidayat menawarkan sesuatu untuk kita tengok kembali, ialah sejarah (dalam diri kita dan di luar kita). Berikut kutipannya: seperti cerita lama/buku itu menunggu kita/untuk melihat keluasan dunia, dan yang terjelma, huruf-huruf yang kau eja/sejak masa kanak-kanak/menjadi serangkaian peristiwa.
Setiap peristiwa yang dialami manusia, melalui tangan penyair ditulis dengan penuh kearifan dan sedapat mungkin meninggalkan sebuah kehikmatan bagi pembacanya. Peristiwa, sepahit apapun tetap menawarkan pemahaman yang lebih dari sekedar senitimentil, ada nilai rasa. Ia bergerak meninggalkan pertanyaan yang pada fase tertentu kita sebut sebagai tahapan introspeksi diri, renungan atas tingkahlaku pada diri manusia. Dengan romantisme perenungan tentang hakikat diri dari waktu ke waktu itulah sebuah puisi disajikan.
Barangkali Restu akan ditolak Plato dari Republik-nya karena dalam puisinya menyertakan ungkapan sensual. Namun, sejalang apapun sebuah puisi tetap memiliki ke-grandeur-annya tersendiri. Ialah perasaan yang agung sebagai kesaksian atas dilema kehidupan. Ia menawarkan permasalahan-permasalahan untuk dipecahkan, bukan sesuatu yang sudah disimpulkan secara pasti. Inilah yang menjadi perenungan Restu dalam puisinya ‘Sebelum Hujan’: ada yang paling rahasia dalam tubuh kita yang telanjang/ketika saling mengingat setiap garis dan titik di setiap lekuk adalah usia. Ia menggambarkan manusia yang dalam fase-fase tertentu mengalami kecemasan karena usia. Saat manusia menunda percintaan sebagai ritual yang paling primitif sekalipun, yang muncul adalah kegelisahan. Bagaimana jika kita menjadi ‘pengantin paling senja’? Belum lagi rahasia tentang maut atau kematian yang bisa datang tiba-tiba. Dari kelalaian manusia terhadap waktu, perenungan yang ditawarkan Restu yang memoria passionis saat berhadapan dengan usia yang tidak mungkin selalu muda.
Berbeda dengan romantisme yang ditawarkan Faisal Kamandobat, ia membawa tubuhnya (corpus) tunduk pada entitas jiwa (animus) menuju hubungan dengan Ruh suci (daimon), sepeti Bima yang mencari Dewa Ruci. Perenungan ini tersirat dalam puisinya ‘Wasiat’: kata-kata, aku tak mampu/hidup lebih lama darimu:/ teruskan hidupku/gemakan jiwaku yang punah. Entah dalam kesempatan apa, di waktu apa dan di mana, Dobat melakukan perbincangan tentang hal yang sama dengan Sapardi Djoko Damono.
Sapardi pernah merenungkan hal itu, ia menyadari sepenuhnya bahwa hidup itu akan menemukan pemberhentiannya kecuali entitas jiwa yang ia titipkan pada puisi-puisinya. Pada suatu hari nanti/jasadku tak akan ada lagi/tapi dalam bait-bait sajak ini/kau takkan kurelakan sendiri. Seperti itulah, sastrawan melalui karya-karyanya berbincang tentang peristiwa masa lampau yang kemudian dihidangkan dengan perenungan-perenungan tentang hari yang bisa saja datang tiba-tiba, akhir kehidupan manusia di bumi. Bagaimana jika Nietzsche duduk bersama Arif, Restu, Faisal, dan Sapardi? Barangkali kita yang akan memeras tetesan-tetesan dari hidangan-hidangan yang mereka buat.
*Yosi M Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka.
Senin, 15 Desember 2008
MODEL, MODUL DAN MODAL
Oleh: Yosi M Giri*
Sebagai orang yang di lahirkan di tanah Jawa, sepatutnya saya mengucapkan kata “maafkan saya” sebagai pengawal dalam tulisan saya ini yang tentunya jauh dari sempurna. Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membuat persamaan antara model, modul dan modal. Ini hanya permasalahan bahasa saja. Berbicara masalah bahasa, tentu saja akan menyeret kita pada seorang tokoh Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai pelopor ilmu linguistik, yang menyatakan bahwa makan bahasa tidak ditentukan oleh hal-hal di luar bahasa, melainkan melalui relasi di dalam bahasa itu sendiri.
Saussure juga membagi entitas makna melalui pemasangan-pemasang seperti: laki-laki versus perempuan, baik versus buruk dan seterusnya. Pada level kata, fonemlah yang membedakan makna kata tersebut: fonem berfungsi membedakan makna. Suatu misal kata tinggi dan tangga berbeda makna sebab yang satu berbunyi dengan vokal i dan yang lain a. Oleh karena itu, relasi makna bahasa ditentukan oleh relasi di dalam bahasa itu sendiri.
Berdasarkan pemahaman di atas, kata model memiliki makna tertentu sebab ada kata lain yang maknanya lain, yakni modul dan modal. Demikian juga kata modul memiliki makna sebab ada kata model dan modal. Hal ini barangkali yang memunculkan anggapan bahwa Strukturalisme itu ahistoris, asosial, dan kering. Sebab jika kita lihat sekilas memang hanya sebuah permainan mengotak-atik bahasa (linguistict game).
Tetapi ada yang menarik pada tiga kata yang sedang saya bicarakan ini. Adakah hubungan antara model, modul dan modal dengan susunannya yang hampir mirip hanya dibedakan dengan bunyi -el, -ul, dan -al?
Kata Model secara etimologis mengacu pada ragam atau cara yang terbaik. Seorang desainer mau tidak mau akan melakukan berbagai macam rancangan, bahan, dan percobaan yang kesemuanya itu membutuhkan modal uang. Ketentuan mengenai kriteria-kriteria seorang pemodel juga akan membawanya kepada pemeliharaan dan perawatan diri agar tetap tampil sempurna, yang itu juga membutuhkan modal uang.
Semakin, pemodel itu ingin tampil tampan atau cantik, maka semakin besar pula modal yang harus ia keluarkan. Maka jangan heran, para artis sinetron berani mengeluarkan biaya ratusan juta hanya untuk memoles wajah, memutihkan tubuh, atau mengoleksi pakaian.
Sedangkan Modul sering kita temukan dalam bidang pendidikan, dimana modul ini merupakan sebuah program pemelajaran beserta tugas-tugas yang telah disusun secara lengkap. Dan tentu saja, modul ini wajib dibeli oleh peserta didik. Sebab, jika tidak membeli modul maka peserta didik tidak akan mendapat nilai. Karena apa? Karena dalam soal-soal evaluasi terdapat dalam modul, maka mau tidak mau si murid harus membeli dengan uang. Modal lagi bukan?
Lalu dimana letak hubungan antara model, modul dan modal tersebut? Model dapat difungsikan untuk merancang Modul semenarik dan selengkap mungkin. Begitu juga dengan Modul, karena di dalamnya merupakan materi pemelajaran yang dibutuhkan para siswa, maka orang tua siswa harus siap-siap dana untuk membeli modul masing-masing mata pelajaran.
Tentu saja, susunan bahasa akan tetap memiliki maknanya jika direlasikan dengan realitas di luar bahasa. Sebab, sekali lagi, percaya atau tidak, bahasa bukan sekedar tatanan huruf-huruf belaka, tapi memiliki berbagai kepentingan yang dalam perwujudannya sebagai produk budaya.
*) Yosi M Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka. Peneliti Budaya dan Sastra Indonesia tinggal di Jl. Pondok Pesantren Roudhatul Tholibin Dampit, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas 53182; HP: 085327047771; Email: yosi_gina@yahoo.com, http//www.yosimgiri.blogspot.com
Sebagai orang yang di lahirkan di tanah Jawa, sepatutnya saya mengucapkan kata “maafkan saya” sebagai pengawal dalam tulisan saya ini yang tentunya jauh dari sempurna. Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membuat persamaan antara model, modul dan modal. Ini hanya permasalahan bahasa saja. Berbicara masalah bahasa, tentu saja akan menyeret kita pada seorang tokoh Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai pelopor ilmu linguistik, yang menyatakan bahwa makan bahasa tidak ditentukan oleh hal-hal di luar bahasa, melainkan melalui relasi di dalam bahasa itu sendiri.
Saussure juga membagi entitas makna melalui pemasangan-pemasang seperti: laki-laki versus perempuan, baik versus buruk dan seterusnya. Pada level kata, fonemlah yang membedakan makna kata tersebut: fonem berfungsi membedakan makna. Suatu misal kata tinggi dan tangga berbeda makna sebab yang satu berbunyi dengan vokal i dan yang lain a. Oleh karena itu, relasi makna bahasa ditentukan oleh relasi di dalam bahasa itu sendiri.
Berdasarkan pemahaman di atas, kata model memiliki makna tertentu sebab ada kata lain yang maknanya lain, yakni modul dan modal. Demikian juga kata modul memiliki makna sebab ada kata model dan modal. Hal ini barangkali yang memunculkan anggapan bahwa Strukturalisme itu ahistoris, asosial, dan kering. Sebab jika kita lihat sekilas memang hanya sebuah permainan mengotak-atik bahasa (linguistict game).
Tetapi ada yang menarik pada tiga kata yang sedang saya bicarakan ini. Adakah hubungan antara model, modul dan modal dengan susunannya yang hampir mirip hanya dibedakan dengan bunyi -el, -ul, dan -al?
Kata Model secara etimologis mengacu pada ragam atau cara yang terbaik. Seorang desainer mau tidak mau akan melakukan berbagai macam rancangan, bahan, dan percobaan yang kesemuanya itu membutuhkan modal uang. Ketentuan mengenai kriteria-kriteria seorang pemodel juga akan membawanya kepada pemeliharaan dan perawatan diri agar tetap tampil sempurna, yang itu juga membutuhkan modal uang.
Semakin, pemodel itu ingin tampil tampan atau cantik, maka semakin besar pula modal yang harus ia keluarkan. Maka jangan heran, para artis sinetron berani mengeluarkan biaya ratusan juta hanya untuk memoles wajah, memutihkan tubuh, atau mengoleksi pakaian.
Sedangkan Modul sering kita temukan dalam bidang pendidikan, dimana modul ini merupakan sebuah program pemelajaran beserta tugas-tugas yang telah disusun secara lengkap. Dan tentu saja, modul ini wajib dibeli oleh peserta didik. Sebab, jika tidak membeli modul maka peserta didik tidak akan mendapat nilai. Karena apa? Karena dalam soal-soal evaluasi terdapat dalam modul, maka mau tidak mau si murid harus membeli dengan uang. Modal lagi bukan?
Lalu dimana letak hubungan antara model, modul dan modal tersebut? Model dapat difungsikan untuk merancang Modul semenarik dan selengkap mungkin. Begitu juga dengan Modul, karena di dalamnya merupakan materi pemelajaran yang dibutuhkan para siswa, maka orang tua siswa harus siap-siap dana untuk membeli modul masing-masing mata pelajaran.
Tentu saja, susunan bahasa akan tetap memiliki maknanya jika direlasikan dengan realitas di luar bahasa. Sebab, sekali lagi, percaya atau tidak, bahasa bukan sekedar tatanan huruf-huruf belaka, tapi memiliki berbagai kepentingan yang dalam perwujudannya sebagai produk budaya.
*) Yosi M Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka. Peneliti Budaya dan Sastra Indonesia tinggal di Jl. Pondok Pesantren Roudhatul Tholibin Dampit, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas 53182; HP: 085327047771; Email: yosi_gina@yahoo.com, http//www.yosimgiri.blogspot.com
Minggu, 08 Juni 2008
PUISI-PUISI YOSI M GIRI

Mahkota Cinta
Jika pada suatu hari kau merasa sepi, tersenyumlah
seperti saat kau melihat jemariku mengusap setiap helai mawar di hatimu
karena keheningan adalah Aku
begitulah kata-kata ingin mencairkan siapapun yang ia lewati
ketakutanmu pada tiap-tiap daun yang gugur takkan memberi apapun
karena lusa ketika matahari datang, ia akan tumbuh tanpa kita suruh
kemarin atau nanti, kita akan sama-sama pergi
dan airmatamu adalah embun pagi bagi pintu-pintu hari
basuhlah demi matahari yang diam-diam memperhatikanmu
dan malam akan lebih baik dari kehadiranku
Engkau adalah kekasih bagi siapapun
Engkau yang tak perlu meminta cinta,
karena kau punya banyak cinta untuk kau mahkotakan
bahkan untuk orang-orang yang melukaimu
Bunga Pustaka, 2008
Jika pada suatu hari kau merasa sepi, tersenyumlah
seperti saat kau melihat jemariku mengusap setiap helai mawar di hatimu
karena keheningan adalah Aku
begitulah kata-kata ingin mencairkan siapapun yang ia lewati
ketakutanmu pada tiap-tiap daun yang gugur takkan memberi apapun
karena lusa ketika matahari datang, ia akan tumbuh tanpa kita suruh
kemarin atau nanti, kita akan sama-sama pergi
dan airmatamu adalah embun pagi bagi pintu-pintu hari
basuhlah demi matahari yang diam-diam memperhatikanmu
dan malam akan lebih baik dari kehadiranku
Engkau adalah kekasih bagi siapapun
Engkau yang tak perlu meminta cinta,
karena kau punya banyak cinta untuk kau mahkotakan
bahkan untuk orang-orang yang melukaimu
Bunga Pustaka, 2008
Langganan:
Entri (Atom)
MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT
MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT
Oleh: Yosi M Giri
Komunitas sastra secara informal sebenarnya sudah ada sejak munculnya Balai Pustaka yang kemudian para anggotanya disebut Angkatan Balai Pustaka. Bahkan pada setiap periode, angkatan-angkatan tersebut terlahir dari sebuah komunitas yang dibentuk untuk kepentingan, yaitu mempublikasikan karya. Sedangkan keterlibatan para sastrawannya sendiri di butuhkan untuk mempertimbangkan estetika dan kualitas karya sastra. Komunitas sastra sebagai perkumpulan para penulis, penikmat dan pengamat karya sastra pada intinya memiliki garis kerja kreatif yang sama, di antaranya; penulisan karya, pembacaan atau publikasi karya, dan pembedahan atau apresiasi karya. Artinya, para penulis yang tergabung sebagai anggota di dalam sebuah komunitas akan terbantu dalam mengeksplorasi bentuk, estetika dan wacana kesusastraan. Namun untuk menopang wawasan serta kualitas karya sastra, seorang penulis haruslah memperbanyak bacaan. Sehingga referensi dalam setiap karyanya akan semakin kaya.
Dengan membaca buku-buku sastra, seorang penulis atau yang sedang belajar menulis akan peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan dunia kesusasteraan. Bahkan karya yang dihasilkan akan menyiratkan kedalaman pemikiran kreatornya, sebagai pandangan penulis terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Kebutuhan-kebutuhan akan sumber bacaan ini tentu berkaitan juga dengan kualitas kesastraan yang dibincangkan dalam sebuah komunitas sastra. Oleh karena itu, bacaan-bacaan itu menjadi sangat penting bagi perkembangan komunitas serta para anggota di dalamnya.
Buku-buku seperti apa sajakah yang dapat membantu memperkembang wacana kesusasteraan sebuah komunitas? Selain buku-buku kesusasteraan, komunitas sastra juga perlu untuk mengoleksi buku-buku yang memiliki kedekatan serius dengan karya sastra Jenis-jenis buku yang mempunyai relevansi dengan karya sastra, antara lain; buku-buku filsafat, sejarah, psikologi, sosiologi dan buku-buku lain yang dapat memperkaya pemikiran seorang kreator atau penulis.
Mendirikan sebuah taman bacaaan memang bukan tanpa tantangan, bahkan dalam komunitas sastra sendiri. Komunitas sastra yang berdomisili di daerah-daerah terpencil maupun pedalaman akan menemukan kesulitan dalam hal penyediaan buku. Permasalahan lain yang muncul adalah mahalnya buku-buku yang dibutuhkan, serta keberminatan masing-masing anggota dalam membaca. Maka, kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan oleh setiap komunitas perlu didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehingga diskusi-diskusi rutin yang dilaksanakan tidak sekedar didengar lalu dilupa. Sigmund Freud, dalam memperkenalkan teori psikoanalisisnya pun dapat kita tangkap kesan diary dalam buku-bukunya. Hal ini menjadi salah satu petanda bahwa manusia di manapun, dalam keadaan apapun, dalam bentuk apapun, dan siapapun semestinya menuliskan hasil pemikirannya. Agar catatan-catatan itu menjadi sumber pijakan atau pertimbangan bagi pengetahuan umat manusia berikutnya. Bahkan tulisan yang berupa skripsi, tesis, dan disertasi akan lebih bermanfaat ketika dibukukan, tentunya dengan mengedit bahasanya agar mudah dimengerti oleh semua kalangan pembaca. Hal ini sependapat dengan D. Zawawi Imron, penyair Celurit Emas dalam suatu essainya ‘Menggagas Budaya Tulis’ (Radar Banyumas, 19 November 2006) bahwa gagasan itu untuk mencerdaskan masyarakat agar bisa mendapatkan bacaan-bacaan ilmiah yang bermutu, daripada disertasi yang penting itu disimpan dan kemudian tidak ada manfaatnya.
Buku-buku sastra sekarang ini semakin mahal dengan naiknya harga kertas. Ini memang kebiasaan negara kita yang menghambat kecerdasan masyarakatnya. Tersedianya buku-buku murah seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra lewat penerbitan Buletin, buku-buku dengan harga cukup seribu rupiah sangat membantu masyarakat yang tinggal di pedalaman.
Masalah lain yang muncul adalah minat baca masyarakat. Jika ditinjau dari beberapa aspek, masyarakat kita ini terdoktrin oleh media visual belaka. Sehingga tulisan-tulisan akan dibaca selintas lalu, dan itu artinya tidak akan ada ahli pikir yang dapat menjunjung martabat bangsa. Ini merupakan tanda kemunduran zaman melalui benda-benda modern. Padahal, zaman kerajaan pun membudayakan budaya tulis, sebagaimana kita ketahui karya-karya agung para empu itu hanya ditulis dengan lontar. Tapi kepekaan mereka akan manfaat dan pentingnya bacaan perlu direnungkan kembali.
Kepekaan ini pun semestinya menjadi salah satu pondasi bagi komunitas sastra yang memang berkutat pada kegiatan-kegiatan kreatif menulis. Sehingga ketakutan akan masyarakat yang buta aksara pun segera mendapat solusi. Disamping itu pemerintah pun perlu mempertimbangkan kembali permasalahan pendidikan, yang seharusnya bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mencerdaskan semua lapisan masyarakatnya.
Berangkat dari kompleksnya permasalahan di atas, komunitas sastra sudah semestinya mengambil tindakan alternatif yang memungkinkan tersedianya taman bacaan. Penyediaan buku-buku bacaan bagi anggota tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber dana tersebut paling sederhana adalah dengan iuran antar anggota untuk membeli buku-buku bacaan. Selebihnya berusaha mencari donatur yang peduli dengan permasalahan yang sama.
Pembelian buku secara peiodik juga dapat meringankan kas komunitas. Sehingga komunitas sastra pun akan memiliki perpustakaan mini yang dapat menopang kreatifitas para anggotanya. Perpustakaan mini akan membantu anggota komunitas yang sedang melakukan penelitian, pengkajian maupun masyarakat yang memiliki membutukan pengetahuan. Disamping itu, peran komunitas sastra dalam membudayakan budaya baca pada masyarakat sebagai upaya mencerdaskan masyarakat pun dapat direalisasikan.
Bunga Pustaka, 2008