Senin, 15 Desember 2008

MODEL, MODUL DAN MODAL

Oleh: Yosi M Giri*

Sebagai orang yang di lahirkan di tanah Jawa, sepatutnya saya mengucapkan kata “maafkan saya” sebagai pengawal dalam tulisan saya ini yang tentunya jauh dari sempurna. Dalam tulisan ini, saya tidak sedang membuat persamaan antara model, modul dan modal. Ini hanya permasalahan bahasa saja. Berbicara masalah bahasa, tentu saja akan menyeret kita pada seorang tokoh Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai pelopor ilmu linguistik, yang menyatakan bahwa makan bahasa tidak ditentukan oleh hal-hal di luar bahasa, melainkan melalui relasi di dalam bahasa itu sendiri.
Saussure juga membagi entitas makna melalui pemasangan-pemasang seperti: laki-laki versus perempuan, baik versus buruk dan seterusnya. Pada level kata, fonemlah yang membedakan makna kata tersebut: fonem berfungsi membedakan makna. Suatu misal kata tinggi dan tangga berbeda makna sebab yang satu berbunyi dengan vokal i dan yang lain a. Oleh karena itu, relasi makna bahasa ditentukan oleh relasi di dalam bahasa itu sendiri.
Berdasarkan pemahaman di atas, kata model memiliki makna tertentu sebab ada kata lain yang maknanya lain, yakni modul dan modal. Demikian juga kata modul memiliki makna sebab ada kata model dan modal. Hal ini barangkali yang memunculkan anggapan bahwa Strukturalisme itu ahistoris, asosial, dan kering. Sebab jika kita lihat sekilas memang hanya sebuah permainan mengotak-atik bahasa (linguistict game).
Tetapi ada yang menarik pada tiga kata yang sedang saya bicarakan ini. Adakah hubungan antara model, modul dan modal dengan susunannya yang hampir mirip hanya dibedakan dengan bunyi -el, -ul, dan -al?
Kata Model secara etimologis mengacu pada ragam atau cara yang terbaik. Seorang desainer mau tidak mau akan melakukan berbagai macam rancangan, bahan, dan percobaan yang kesemuanya itu membutuhkan modal uang. Ketentuan mengenai kriteria-kriteria seorang pemodel juga akan membawanya kepada pemeliharaan dan perawatan diri agar tetap tampil sempurna, yang itu juga membutuhkan modal uang.
Semakin, pemodel itu ingin tampil tampan atau cantik, maka semakin besar pula modal yang harus ia keluarkan. Maka jangan heran, para artis sinetron berani mengeluarkan biaya ratusan juta hanya untuk memoles wajah, memutihkan tubuh, atau mengoleksi pakaian.
Sedangkan Modul sering kita temukan dalam bidang pendidikan, dimana modul ini merupakan sebuah program pemelajaran beserta tugas-tugas yang telah disusun secara lengkap. Dan tentu saja, modul ini wajib dibeli oleh peserta didik. Sebab, jika tidak membeli modul maka peserta didik tidak akan mendapat nilai. Karena apa? Karena dalam soal-soal evaluasi terdapat dalam modul, maka mau tidak mau si murid harus membeli dengan uang. Modal lagi bukan?
Lalu dimana letak hubungan antara model, modul dan modal tersebut? Model dapat difungsikan untuk merancang Modul semenarik dan selengkap mungkin. Begitu juga dengan Modul, karena di dalamnya merupakan materi pemelajaran yang dibutuhkan para siswa, maka orang tua siswa harus siap-siap dana untuk membeli modul masing-masing mata pelajaran.
Tentu saja, susunan bahasa akan tetap memiliki maknanya jika direlasikan dengan realitas di luar bahasa. Sebab, sekali lagi, percaya atau tidak, bahasa bukan sekedar tatanan huruf-huruf belaka, tapi memiliki berbagai kepentingan yang dalam perwujudannya sebagai produk budaya.





*) Yosi M Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka. Peneliti Budaya dan Sastra Indonesia tinggal di Jl. Pondok Pesantren Roudhatul Tholibin Dampit, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas 53182; HP: 085327047771; Email: yosi_gina@yahoo.com, http//www.yosimgiri.blogspot.com

0 komentar:

MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT

MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT Oleh: Yosi M Giri Komunitas sastra secara informal sebenarnya sudah ada sejak munculnya Balai Pustaka yang kemudian para anggotanya disebut Angkatan Balai Pustaka. Bahkan pada setiap periode, angkatan-angkatan tersebut terlahir dari sebuah komunitas yang dibentuk untuk kepentingan, yaitu mempublikasikan karya. Sedangkan keterlibatan para sastrawannya sendiri di butuhkan untuk mempertimbangkan estetika dan kualitas karya sastra. Komunitas sastra sebagai perkumpulan para penulis, penikmat dan pengamat karya sastra pada intinya memiliki garis kerja kreatif yang sama, di antaranya; penulisan karya, pembacaan atau publikasi karya, dan pembedahan atau apresiasi karya. Artinya, para penulis yang tergabung sebagai anggota di dalam sebuah komunitas akan terbantu dalam mengeksplorasi bentuk, estetika dan wacana kesusastraan. Namun untuk menopang wawasan serta kualitas karya sastra, seorang penulis haruslah memperbanyak bacaan. Sehingga referensi dalam setiap karyanya akan semakin kaya. Dengan membaca buku-buku sastra, seorang penulis atau yang sedang belajar menulis akan peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan dunia kesusasteraan. Bahkan karya yang dihasilkan akan menyiratkan kedalaman pemikiran kreatornya, sebagai pandangan penulis terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Kebutuhan-kebutuhan akan sumber bacaan ini tentu berkaitan juga dengan kualitas kesastraan yang dibincangkan dalam sebuah komunitas sastra. Oleh karena itu, bacaan-bacaan itu menjadi sangat penting bagi perkembangan komunitas serta para anggota di dalamnya. Buku-buku seperti apa sajakah yang dapat membantu memperkembang wacana kesusasteraan sebuah komunitas? Selain buku-buku kesusasteraan, komunitas sastra juga perlu untuk mengoleksi buku-buku yang memiliki kedekatan serius dengan karya sastra Jenis-jenis buku yang mempunyai relevansi dengan karya sastra, antara lain; buku-buku filsafat, sejarah, psikologi, sosiologi dan buku-buku lain yang dapat memperkaya pemikiran seorang kreator atau penulis. Mendirikan sebuah taman bacaaan memang bukan tanpa tantangan, bahkan dalam komunitas sastra sendiri. Komunitas sastra yang berdomisili di daerah-daerah terpencil maupun pedalaman akan menemukan kesulitan dalam hal penyediaan buku. Permasalahan lain yang muncul adalah mahalnya buku-buku yang dibutuhkan, serta keberminatan masing-masing anggota dalam membaca. Maka, kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan oleh setiap komunitas perlu didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehingga diskusi-diskusi rutin yang dilaksanakan tidak sekedar didengar lalu dilupa. Sigmund Freud, dalam memperkenalkan teori psikoanalisisnya pun dapat kita tangkap kesan diary dalam buku-bukunya. Hal ini menjadi salah satu petanda bahwa manusia di manapun, dalam keadaan apapun, dalam bentuk apapun, dan siapapun semestinya menuliskan hasil pemikirannya. Agar catatan-catatan itu menjadi sumber pijakan atau pertimbangan bagi pengetahuan umat manusia berikutnya. Bahkan tulisan yang berupa skripsi, tesis, dan disertasi akan lebih bermanfaat ketika dibukukan, tentunya dengan mengedit bahasanya agar mudah dimengerti oleh semua kalangan pembaca. Hal ini sependapat dengan D. Zawawi Imron, penyair Celurit Emas dalam suatu essainya ‘Menggagas Budaya Tulis’ (Radar Banyumas, 19 November 2006) bahwa gagasan itu untuk mencerdaskan masyarakat agar bisa mendapatkan bacaan-bacaan ilmiah yang bermutu, daripada disertasi yang penting itu disimpan dan kemudian tidak ada manfaatnya. Buku-buku sastra sekarang ini semakin mahal dengan naiknya harga kertas. Ini memang kebiasaan negara kita yang menghambat kecerdasan masyarakatnya. Tersedianya buku-buku murah seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra lewat penerbitan Buletin, buku-buku dengan harga cukup seribu rupiah sangat membantu masyarakat yang tinggal di pedalaman. Masalah lain yang muncul adalah minat baca masyarakat. Jika ditinjau dari beberapa aspek, masyarakat kita ini terdoktrin oleh media visual belaka. Sehingga tulisan-tulisan akan dibaca selintas lalu, dan itu artinya tidak akan ada ahli pikir yang dapat menjunjung martabat bangsa. Ini merupakan tanda kemunduran zaman melalui benda-benda modern. Padahal, zaman kerajaan pun membudayakan budaya tulis, sebagaimana kita ketahui karya-karya agung para empu itu hanya ditulis dengan lontar. Tapi kepekaan mereka akan manfaat dan pentingnya bacaan perlu direnungkan kembali. Kepekaan ini pun semestinya menjadi salah satu pondasi bagi komunitas sastra yang memang berkutat pada kegiatan-kegiatan kreatif menulis. Sehingga ketakutan akan masyarakat yang buta aksara pun segera mendapat solusi. Disamping itu pemerintah pun perlu mempertimbangkan kembali permasalahan pendidikan, yang seharusnya bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mencerdaskan semua lapisan masyarakatnya. Berangkat dari kompleksnya permasalahan di atas, komunitas sastra sudah semestinya mengambil tindakan alternatif yang memungkinkan tersedianya taman bacaan. Penyediaan buku-buku bacaan bagi anggota tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber dana tersebut paling sederhana adalah dengan iuran antar anggota untuk membeli buku-buku bacaan. Selebihnya berusaha mencari donatur yang peduli dengan permasalahan yang sama. Pembelian buku secara peiodik juga dapat meringankan kas komunitas. Sehingga komunitas sastra pun akan memiliki perpustakaan mini yang dapat menopang kreatifitas para anggotanya. Perpustakaan mini akan membantu anggota komunitas yang sedang melakukan penelitian, pengkajian maupun masyarakat yang memiliki membutukan pengetahuan. Disamping itu, peran komunitas sastra dalam membudayakan budaya baca pada masyarakat sebagai upaya mencerdaskan masyarakat pun dapat direalisasikan. Bunga Pustaka, 2008