Kamis, 15 Januari 2009

ROMANTICAHOLIC DALAM PUISI PENYAIR MUDA BANYUMAS

Oleh: Yosi M Giri

Secara sederhana, manusia itu makhluk yang pelupa. Banyak sekali peristiwa-peristiwa yang ada di sekitar kita semenjak kita dilahirkan di bumi, dan kesemuanya itu sedikit banyak terekam di batok kepala kita ini. Namun, akan menjadi sia-sia manakala semua peristiwa dan dinamika kehidupan itu luput untuk direnungkan. Perenungan demi perenungan yang kemudian meminta kita untuk menuliskannya itulah yang terjadi dalam diri filosof juga seorang sastrawan. Mereka mengetahui sesuatu yang tidak banyak orang menangkapnya.
Lamunan seorang filosof atau pun sastrawan tidak sama dengan lamunan seseorang biasa, meskipun memikirkan hal yang sama. Maka, akan terasa berbeda ketika kita mendengar keluhan seorang (yang bukan sastrawan) ketika mengalami persoalan-persoalan hidup jika dibandingkan dengan seorang sastrawan dalam ‘mengunyah’ persoalan. Sastrawan akan memeras jarik-jarik kehidupan hingga tetesan sari (inti kebijakan) itu tertampung dalam bejana.
Karya sastra, sebagai sebuah catatan (baik ukuran pribadi maupun kelompok), ia mendapat kedudukan sejarah bagi umat manusia. Apa yang diungkapkan oleh sastrawan sedikit banyak merupakan sebuah gambaran tentang keadaan, gejala-gejala juga problematika kehidupan di sekitar pengarang itu hidup. Karya sastra, se-fiksi apapun, ia tetap memiliki unsur-unsur faktual di dalamnya yang lewat bahasa figuratif hendak berbicara sesuatu.
Dalam pengertian yang demikian, sastra (puisi) dapat berfungsi sebagai memoria passionis, sebuah perlawanan terhadap lupa. Dalam puisi ‘Sajak Buku’, Arif Hidayat menawarkan sesuatu untuk kita tengok kembali, ialah sejarah (dalam diri kita dan di luar kita). Berikut kutipannya: seperti cerita lama/buku itu menunggu kita/untuk melihat keluasan dunia, dan yang terjelma, huruf-huruf yang kau eja/sejak masa kanak-kanak/menjadi serangkaian peristiwa.
Setiap peristiwa yang dialami manusia, melalui tangan penyair ditulis dengan penuh kearifan dan sedapat mungkin meninggalkan sebuah kehikmatan bagi pembacanya. Peristiwa, sepahit apapun tetap menawarkan pemahaman yang lebih dari sekedar senitimentil, ada nilai rasa. Ia bergerak meninggalkan pertanyaan yang pada fase tertentu kita sebut sebagai tahapan introspeksi diri, renungan atas tingkahlaku pada diri manusia. Dengan romantisme perenungan tentang hakikat diri dari waktu ke waktu itulah sebuah puisi disajikan.
Barangkali Restu akan ditolak Plato dari Republik-nya karena dalam puisinya menyertakan ungkapan sensual. Namun, sejalang apapun sebuah puisi tetap memiliki ke-grandeur-annya tersendiri. Ialah perasaan yang agung sebagai kesaksian atas dilema kehidupan. Ia menawarkan permasalahan-permasalahan untuk dipecahkan, bukan sesuatu yang sudah disimpulkan secara pasti. Inilah yang menjadi perenungan Restu dalam puisinya ‘Sebelum Hujan’: ada yang paling rahasia dalam tubuh kita yang telanjang/ketika saling mengingat setiap garis dan titik di setiap lekuk adalah usia. Ia menggambarkan manusia yang dalam fase-fase tertentu mengalami kecemasan karena usia. Saat manusia menunda percintaan sebagai ritual yang paling primitif sekalipun, yang muncul adalah kegelisahan. Bagaimana jika kita menjadi ‘pengantin paling senja’? Belum lagi rahasia tentang maut atau kematian yang bisa datang tiba-tiba. Dari kelalaian manusia terhadap waktu, perenungan yang ditawarkan Restu yang memoria passionis saat berhadapan dengan usia yang tidak mungkin selalu muda.
Berbeda dengan romantisme yang ditawarkan Faisal Kamandobat, ia membawa tubuhnya (corpus) tunduk pada entitas jiwa (animus) menuju hubungan dengan Ruh suci (daimon), sepeti Bima yang mencari Dewa Ruci. Perenungan ini tersirat dalam puisinya ‘Wasiat’: kata-kata, aku tak mampu/hidup lebih lama darimu:/ teruskan hidupku/gemakan jiwaku yang punah. Entah dalam kesempatan apa, di waktu apa dan di mana, Dobat melakukan perbincangan tentang hal yang sama dengan Sapardi Djoko Damono.
Sapardi pernah merenungkan hal itu, ia menyadari sepenuhnya bahwa hidup itu akan menemukan pemberhentiannya kecuali entitas jiwa yang ia titipkan pada puisi-puisinya. Pada suatu hari nanti/jasadku tak akan ada lagi/tapi dalam bait-bait sajak ini/kau takkan kurelakan sendiri. Seperti itulah, sastrawan melalui karya-karyanya berbincang tentang peristiwa masa lampau yang kemudian dihidangkan dengan perenungan-perenungan tentang hari yang bisa saja datang tiba-tiba, akhir kehidupan manusia di bumi. Bagaimana jika Nietzsche duduk bersama Arif, Restu, Faisal, dan Sapardi? Barangkali kita yang akan memeras tetesan-tetesan dari hidangan-hidangan yang mereka buat.

*Yosi M Giri, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Komunitas Sastra Bunga Pustaka.

0 komentar:

MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT

MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT Oleh: Yosi M Giri Komunitas sastra secara informal sebenarnya sudah ada sejak munculnya Balai Pustaka yang kemudian para anggotanya disebut Angkatan Balai Pustaka. Bahkan pada setiap periode, angkatan-angkatan tersebut terlahir dari sebuah komunitas yang dibentuk untuk kepentingan, yaitu mempublikasikan karya. Sedangkan keterlibatan para sastrawannya sendiri di butuhkan untuk mempertimbangkan estetika dan kualitas karya sastra. Komunitas sastra sebagai perkumpulan para penulis, penikmat dan pengamat karya sastra pada intinya memiliki garis kerja kreatif yang sama, di antaranya; penulisan karya, pembacaan atau publikasi karya, dan pembedahan atau apresiasi karya. Artinya, para penulis yang tergabung sebagai anggota di dalam sebuah komunitas akan terbantu dalam mengeksplorasi bentuk, estetika dan wacana kesusastraan. Namun untuk menopang wawasan serta kualitas karya sastra, seorang penulis haruslah memperbanyak bacaan. Sehingga referensi dalam setiap karyanya akan semakin kaya. Dengan membaca buku-buku sastra, seorang penulis atau yang sedang belajar menulis akan peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan dunia kesusasteraan. Bahkan karya yang dihasilkan akan menyiratkan kedalaman pemikiran kreatornya, sebagai pandangan penulis terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Kebutuhan-kebutuhan akan sumber bacaan ini tentu berkaitan juga dengan kualitas kesastraan yang dibincangkan dalam sebuah komunitas sastra. Oleh karena itu, bacaan-bacaan itu menjadi sangat penting bagi perkembangan komunitas serta para anggota di dalamnya. Buku-buku seperti apa sajakah yang dapat membantu memperkembang wacana kesusasteraan sebuah komunitas? Selain buku-buku kesusasteraan, komunitas sastra juga perlu untuk mengoleksi buku-buku yang memiliki kedekatan serius dengan karya sastra Jenis-jenis buku yang mempunyai relevansi dengan karya sastra, antara lain; buku-buku filsafat, sejarah, psikologi, sosiologi dan buku-buku lain yang dapat memperkaya pemikiran seorang kreator atau penulis. Mendirikan sebuah taman bacaaan memang bukan tanpa tantangan, bahkan dalam komunitas sastra sendiri. Komunitas sastra yang berdomisili di daerah-daerah terpencil maupun pedalaman akan menemukan kesulitan dalam hal penyediaan buku. Permasalahan lain yang muncul adalah mahalnya buku-buku yang dibutuhkan, serta keberminatan masing-masing anggota dalam membaca. Maka, kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan oleh setiap komunitas perlu didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehingga diskusi-diskusi rutin yang dilaksanakan tidak sekedar didengar lalu dilupa. Sigmund Freud, dalam memperkenalkan teori psikoanalisisnya pun dapat kita tangkap kesan diary dalam buku-bukunya. Hal ini menjadi salah satu petanda bahwa manusia di manapun, dalam keadaan apapun, dalam bentuk apapun, dan siapapun semestinya menuliskan hasil pemikirannya. Agar catatan-catatan itu menjadi sumber pijakan atau pertimbangan bagi pengetahuan umat manusia berikutnya. Bahkan tulisan yang berupa skripsi, tesis, dan disertasi akan lebih bermanfaat ketika dibukukan, tentunya dengan mengedit bahasanya agar mudah dimengerti oleh semua kalangan pembaca. Hal ini sependapat dengan D. Zawawi Imron, penyair Celurit Emas dalam suatu essainya ‘Menggagas Budaya Tulis’ (Radar Banyumas, 19 November 2006) bahwa gagasan itu untuk mencerdaskan masyarakat agar bisa mendapatkan bacaan-bacaan ilmiah yang bermutu, daripada disertasi yang penting itu disimpan dan kemudian tidak ada manfaatnya. Buku-buku sastra sekarang ini semakin mahal dengan naiknya harga kertas. Ini memang kebiasaan negara kita yang menghambat kecerdasan masyarakatnya. Tersedianya buku-buku murah seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra lewat penerbitan Buletin, buku-buku dengan harga cukup seribu rupiah sangat membantu masyarakat yang tinggal di pedalaman. Masalah lain yang muncul adalah minat baca masyarakat. Jika ditinjau dari beberapa aspek, masyarakat kita ini terdoktrin oleh media visual belaka. Sehingga tulisan-tulisan akan dibaca selintas lalu, dan itu artinya tidak akan ada ahli pikir yang dapat menjunjung martabat bangsa. Ini merupakan tanda kemunduran zaman melalui benda-benda modern. Padahal, zaman kerajaan pun membudayakan budaya tulis, sebagaimana kita ketahui karya-karya agung para empu itu hanya ditulis dengan lontar. Tapi kepekaan mereka akan manfaat dan pentingnya bacaan perlu direnungkan kembali. Kepekaan ini pun semestinya menjadi salah satu pondasi bagi komunitas sastra yang memang berkutat pada kegiatan-kegiatan kreatif menulis. Sehingga ketakutan akan masyarakat yang buta aksara pun segera mendapat solusi. Disamping itu pemerintah pun perlu mempertimbangkan kembali permasalahan pendidikan, yang seharusnya bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mencerdaskan semua lapisan masyarakatnya. Berangkat dari kompleksnya permasalahan di atas, komunitas sastra sudah semestinya mengambil tindakan alternatif yang memungkinkan tersedianya taman bacaan. Penyediaan buku-buku bacaan bagi anggota tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber dana tersebut paling sederhana adalah dengan iuran antar anggota untuk membeli buku-buku bacaan. Selebihnya berusaha mencari donatur yang peduli dengan permasalahan yang sama. Pembelian buku secara peiodik juga dapat meringankan kas komunitas. Sehingga komunitas sastra pun akan memiliki perpustakaan mini yang dapat menopang kreatifitas para anggotanya. Perpustakaan mini akan membantu anggota komunitas yang sedang melakukan penelitian, pengkajian maupun masyarakat yang memiliki membutukan pengetahuan. Disamping itu, peran komunitas sastra dalam membudayakan budaya baca pada masyarakat sebagai upaya mencerdaskan masyarakat pun dapat direalisasikan. Bunga Pustaka, 2008