Kamis, 15 Juli 2010

CATATAN JULI 2010


SILUET BUNGA PUSTAKA BANYUMAS
Oleh: Yosi Muhaemin

Menjadi bagian dari perkembangan sastra di wilayah Banyumas adalah kebanggaan tersendiri bagi komunitas sastra Bunga Pustaka. Komunitas yang didirikan 7 Juli 2007 ini dapat disejajarkan dengan komunitas lain, seperti Hujan Tak Kunjung Padam (HTKP) di Purwokerto dan komunitas Gethek di Ajibarang. Meskipun tidak go internasional semacam Gethek (komunitasnya Edi Romadhon), Bunga Pustaka telah berperan melahirkan sastrawan-sastrawan muda yang hingga kini masih eksis di dunianya, seperti Arif Hidayat, Abdul Aziz Rasjid, Yosi M Giri, Restu Kurniawan, Inneke Eko, Dwi Setiyaningsih, Doni S Piningit, Aditya Wepe, Karyati, dan beberapa nama lain.
Pada tahun 2008, Bunga Pustaka bergerak mengembangkan kesusastraan pada sekolah-sekolah menengah di Banyumas dengan menyelenggarakan pelatihan penulisan dan bedah karya sastra. Sastrawan-sastrawan lokal yang ada di wilayah Banyumas pun digaet untuk berbicara langsung di hadapan siswa. Inilah yang berbeda dengan model Sastrawan Bicara Siswa Bertanya ala sastrawan Horison. Hal yang paling penting untuk dicatat jika kesusastraan hendak dimajukan ialah dokumentasi sastra penerbitan buku yang dilakukan oleh Bunga Pustaka.

Dokumentasi dan Tradisi Kritik
Dalam genre puisi, Bunga Pustaka menerbitkan beberapa buku, di antaranya: Syair-Syair Fajar (2007), Diorama Cinta (2008), dan Ketika Cinta Menengadah Doa (2009). Dalam genre prosa fiksi, di antaranya: Hani In Memories (2008), Lovinesha (2010), dan Cermin Jiwa (2010). Selain itu, Bunga Pustaka juga menerbitkan buletin Bupus yang memuat karya-karya sastrawan di wilayah Banyumas, baik nama-nama lama maupun nama-nama yang tergolong baru.
Namun demikian, di antara judul buku di atas, hanya Syair-Syair Fajar sajalah yang baru mendapat sentuhan apresiatif dan kritik dari esais Abdul Aziz Rasjid yang terpublikasi di buletin Littera (TBJT) dan Radar Banyumas. Hal ini mengimplikasikan bahwa Bunga Pustaka belum memiliki kesadaran yang penuh untuk membangkitkan tradisi kritik di Banyumas.
Dokumentasi dan tradisi kritik adalah dua aspek penting bagi usaha pengembangan kesusastraan. Nama Chairil Anwar tidak akan sebesar sekarang jika H.B. Jassin tidak ikut mengoyak-koyak karyanya di hadapan karya sastrawan lain. Iwan Simatupang pun demikian, tidak akan diketahui masyarakat Indonesia jika Dami N. Toha tidak mengeluarkan hasil kritikannya. Di sinilah, perlunya dokumentasi utuh dari para sastrawan Banyumas dan melahirkan kritik yang ilmiah, agar karya sastra tidak sekedar diproduksi secara massal belaka.

Peta Dokumentasi Sastra Banyumas
Setelah buku kumpulan puisi Melacak Jejak, tahun 1995 terbit buku Serayu yang dimotori komunitas Kancah Budaya Merdeka. Namun buku-buku tersebut hanya tersimpan di perpustakaan tanpa pernah dibicarakan lebih lanjut dalam forum-forum diskusi sastra. Adapun buku puisi Kata di Padang Tanya karya penyair Bambang Set yang terbit 1997 telah melahirkan dua skripsi di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Namun demikian, hasil penelitian itu pun lagi-lagi hanya tersimpan di perpustakaan saja. Bahkan, ketika penulis bertanya langsung kepada penyairnya, ia tidak mengetahui kalau karyanya telah diapresiasi. Maka menjadi wajar, jika para penyair Banyumas sebenarnya kehilangan penilaian kritis yang sebenarnya dapat membantu mereka untuk mengembangkan konsep estetis dan estetika karya selanjutnya.
Nasib penyair Dharmadi sedikit beruntung, dengan bukunya Jejak Sajak yang terbit 2008 Dharmadi mendapat masukan-masukan kritis di antaranya melalui bedah di FISIP Universitas Jendral Soedirman dan Dewan Kesenian Kudus. Ditambah lagi, Dharmadi kini bermukim di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang ikut menopang eksistensinya dalam konstalasi sastra Indonesia.
Dokumentasi yang tidak kalah pentingnya selain yang diterbitkan dalam bentuk buku, ialah manuskrip. Banyak di antara sastrawan Banyumas angkatan 70-an hingga 80-an yang masih menyimpan hasil karyanya sendiri tanpa mempublikasikannya kepada masyarakat. Sebagai ‘anak-anak rohani’ sastrawan (meminjam istilah Pram), harusnya karya-karya itu dibebaskan untuk dibaca khalayak. Hal ini sekaligus PR yang harus diselesaikan oleh komunitas Bunga Pustaka dalam usianya yang belia, sebagai komunitas yang dibentengi oleh kalangan akademisi sastra yang nyata-nyata ‘paham’ konsep dan metode pengembangan sastra.

0 komentar:

MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT

MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT Oleh: Yosi M Giri Komunitas sastra secara informal sebenarnya sudah ada sejak munculnya Balai Pustaka yang kemudian para anggotanya disebut Angkatan Balai Pustaka. Bahkan pada setiap periode, angkatan-angkatan tersebut terlahir dari sebuah komunitas yang dibentuk untuk kepentingan, yaitu mempublikasikan karya. Sedangkan keterlibatan para sastrawannya sendiri di butuhkan untuk mempertimbangkan estetika dan kualitas karya sastra. Komunitas sastra sebagai perkumpulan para penulis, penikmat dan pengamat karya sastra pada intinya memiliki garis kerja kreatif yang sama, di antaranya; penulisan karya, pembacaan atau publikasi karya, dan pembedahan atau apresiasi karya. Artinya, para penulis yang tergabung sebagai anggota di dalam sebuah komunitas akan terbantu dalam mengeksplorasi bentuk, estetika dan wacana kesusastraan. Namun untuk menopang wawasan serta kualitas karya sastra, seorang penulis haruslah memperbanyak bacaan. Sehingga referensi dalam setiap karyanya akan semakin kaya. Dengan membaca buku-buku sastra, seorang penulis atau yang sedang belajar menulis akan peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan dunia kesusasteraan. Bahkan karya yang dihasilkan akan menyiratkan kedalaman pemikiran kreatornya, sebagai pandangan penulis terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Kebutuhan-kebutuhan akan sumber bacaan ini tentu berkaitan juga dengan kualitas kesastraan yang dibincangkan dalam sebuah komunitas sastra. Oleh karena itu, bacaan-bacaan itu menjadi sangat penting bagi perkembangan komunitas serta para anggota di dalamnya. Buku-buku seperti apa sajakah yang dapat membantu memperkembang wacana kesusasteraan sebuah komunitas? Selain buku-buku kesusasteraan, komunitas sastra juga perlu untuk mengoleksi buku-buku yang memiliki kedekatan serius dengan karya sastra Jenis-jenis buku yang mempunyai relevansi dengan karya sastra, antara lain; buku-buku filsafat, sejarah, psikologi, sosiologi dan buku-buku lain yang dapat memperkaya pemikiran seorang kreator atau penulis. Mendirikan sebuah taman bacaaan memang bukan tanpa tantangan, bahkan dalam komunitas sastra sendiri. Komunitas sastra yang berdomisili di daerah-daerah terpencil maupun pedalaman akan menemukan kesulitan dalam hal penyediaan buku. Permasalahan lain yang muncul adalah mahalnya buku-buku yang dibutuhkan, serta keberminatan masing-masing anggota dalam membaca. Maka, kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan oleh setiap komunitas perlu didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehingga diskusi-diskusi rutin yang dilaksanakan tidak sekedar didengar lalu dilupa. Sigmund Freud, dalam memperkenalkan teori psikoanalisisnya pun dapat kita tangkap kesan diary dalam buku-bukunya. Hal ini menjadi salah satu petanda bahwa manusia di manapun, dalam keadaan apapun, dalam bentuk apapun, dan siapapun semestinya menuliskan hasil pemikirannya. Agar catatan-catatan itu menjadi sumber pijakan atau pertimbangan bagi pengetahuan umat manusia berikutnya. Bahkan tulisan yang berupa skripsi, tesis, dan disertasi akan lebih bermanfaat ketika dibukukan, tentunya dengan mengedit bahasanya agar mudah dimengerti oleh semua kalangan pembaca. Hal ini sependapat dengan D. Zawawi Imron, penyair Celurit Emas dalam suatu essainya ‘Menggagas Budaya Tulis’ (Radar Banyumas, 19 November 2006) bahwa gagasan itu untuk mencerdaskan masyarakat agar bisa mendapatkan bacaan-bacaan ilmiah yang bermutu, daripada disertasi yang penting itu disimpan dan kemudian tidak ada manfaatnya. Buku-buku sastra sekarang ini semakin mahal dengan naiknya harga kertas. Ini memang kebiasaan negara kita yang menghambat kecerdasan masyarakatnya. Tersedianya buku-buku murah seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra lewat penerbitan Buletin, buku-buku dengan harga cukup seribu rupiah sangat membantu masyarakat yang tinggal di pedalaman. Masalah lain yang muncul adalah minat baca masyarakat. Jika ditinjau dari beberapa aspek, masyarakat kita ini terdoktrin oleh media visual belaka. Sehingga tulisan-tulisan akan dibaca selintas lalu, dan itu artinya tidak akan ada ahli pikir yang dapat menjunjung martabat bangsa. Ini merupakan tanda kemunduran zaman melalui benda-benda modern. Padahal, zaman kerajaan pun membudayakan budaya tulis, sebagaimana kita ketahui karya-karya agung para empu itu hanya ditulis dengan lontar. Tapi kepekaan mereka akan manfaat dan pentingnya bacaan perlu direnungkan kembali. Kepekaan ini pun semestinya menjadi salah satu pondasi bagi komunitas sastra yang memang berkutat pada kegiatan-kegiatan kreatif menulis. Sehingga ketakutan akan masyarakat yang buta aksara pun segera mendapat solusi. Disamping itu pemerintah pun perlu mempertimbangkan kembali permasalahan pendidikan, yang seharusnya bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mencerdaskan semua lapisan masyarakatnya. Berangkat dari kompleksnya permasalahan di atas, komunitas sastra sudah semestinya mengambil tindakan alternatif yang memungkinkan tersedianya taman bacaan. Penyediaan buku-buku bacaan bagi anggota tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber dana tersebut paling sederhana adalah dengan iuran antar anggota untuk membeli buku-buku bacaan. Selebihnya berusaha mencari donatur yang peduli dengan permasalahan yang sama. Pembelian buku secara peiodik juga dapat meringankan kas komunitas. Sehingga komunitas sastra pun akan memiliki perpustakaan mini yang dapat menopang kreatifitas para anggotanya. Perpustakaan mini akan membantu anggota komunitas yang sedang melakukan penelitian, pengkajian maupun masyarakat yang memiliki membutukan pengetahuan. Disamping itu, peran komunitas sastra dalam membudayakan budaya baca pada masyarakat sebagai upaya mencerdaskan masyarakat pun dapat direalisasikan. Bunga Pustaka, 2008