YOSI M GIRI
Mengapa Begitu
Banjir yang melautkan kota dan desa-desa
Mengapa hujan disalahkan
Bukankah ia ada sejak milyaran tahun yang lalu
Mengapa mesti hujan disedihkan
Tumbang ngambangnya pohon dan huni alam
Bukan karena akarnya tak lagi menyakar
Bukan pula karena murka alam
Tetapi dendam dan nakalnya hati dan tangan kita
Yang tak mau diam mengkhidmati
Apa yang ditangkap mata
Lalu semena-mena
Kita menjadi rampok bagi keteraturan bumi
Diam-diam kita selalu membikin tengkar
Dengan makhluk-makhluk Tuhan yang lain
Mengapa kita menjadi begitu binal
Menggeliat ketika diminta tawaqal
Mengapa kita begitu sangsi
Meski segala kepayahan kita bikin sendiri
Pemalang, 24 Februari 2010
YOSI M GIRI
Hanya Menduga
Ketika pagi,
kau merasa menyentuh matahari
begitu dekat sejarak helai rambutmu yang baru dikeramas
Semalaman kau perang,
memorakporandakan bala kurawa
yang hendak mengambil perempuanmu
ketika mandi kembang setaman di tepi telaga
Membenahi letak dipan dan sprei,
kau merasakan sebentar lagi ujung dunia
menyambutmu dengan senyum nakal
tapi,
kita tak pernah benar-benar beranjak
dari kulit kita yang selalu asam
dan kau bilang: hanya menduga
Pemalang, Januari – Februari 2010
YOSI M GIRI
Bagaimana Caranya Aku Berdusta
bagaimana caranya aku berdusta
sementara depan mata, takdirmu termangu-mangu
menimbang-nimbang kerinduan pada arah angin
juga bekas kecupan di lehermu
menandakan seorang lelaki dipaksa memejamkan hati
dan menerka-nerka dan merekayasa perasaan
bagaimana caranya aku berdusta
sementara gelas-gelas jiwaku penuh luka
nganga tak berselimut apa pun
hanya dendam yang aus dirubung getaran
antara kenangan dan lembaran depan yang samar
bagaimana caranya aku berdusta
jika tangan, kaki dan hati terus dikuliti cahaya
bersandar di batu pun aku kena
Pemalang, Februari 2010
Yosi M Giri
Mencari Ladang
Ladang manakah yang masih mau basah
Sedang ranting makin rentan dan mau patah
Maukah tanah sejenak menata mata
Biar benih-benih rekah gembira menemu lubuknya
Aku melihat sangsi di balik sesinggungan
Berpura simpulkan senyum
Sekedar memagar diri dari kutukan eros
Kutukan yang pernah membuat langit menjadi sangat baik
Untuk menyerahkan tubuhnya berubah cokelat kering daun
Meski pencarian tak mesti menemukan
Melainkan sendau gurau para pemetik di ladang, tak lain.
Purwokerto, Mei 2010
YOSI M GIRI
Anak-Anak Peti 2
Banjir lagi negeriku,
Air hujan yang bah, gelombang yang akut,
Dan luapan sungai yang bikin takut
Banjir lagi negeriku,
Airmata yang riuh dalam samar gemuruh
Lagi-lagi anak-anak peti kembali sebagai bangkai
Mereka, yang berjuang atasnama merah putih
Demi devisa negeri yang tak kunjung diperhatikan negeri
Mereka, yang dijual seperti daging-daging panggang
Dan tuhan keadilan telah dibunuh pelan-pelan
Oh, bukan kematian di tangan mereka
Anak-anak peti selalu saja diukir jadi budak negara, budak konglomerat asing,
Budak nafsu bagi siapa saja yang masih birahi atas kuasa dan pongah harta.
Dan hakim-hakim telah jadi patung Zeus,
Atau telah menjadi dongeng di pasar-pasar yang gelap
Oh, sistem yang terlalu tandus.
Pemalang, Desember-Januari 2009
YOSI M GIRI
Karna Kecil
Kau pun bertanya,
Bagaimana anak selemah itu
Mencukil-cukil dan menancapkan sebatang lidi pada batu-batu
Kau pun melihat,
Bagaimana keringatnya yang abu
Makin menggeliat di badan pecahan batu
Pelan-pelan mengalir melukis wajahnya sendiri
Senyum sang fajar yang menggetarkan getir dan sejarah di kening
Kau masih bertanya,
Bagaimana nasib anak sekumal itu
Mampu merubah laut menjadi gunung
Dan daratan menjadi surga bagi anak-anak yatim yang lain di waktu lain
Di sinilah akhirnya kau mencium jejak
Mendirikan rumah-rumah bagi bayi-bayi matahari
Di antara gelombang bumi yang semakin tak terduga
Menunggu berpulang bersama semesta
Bunga Pustaka, September 2009
YOSI M GIRI
Menimbang Angin
Menimbang angin antara Pemalang-Purbalingga-Banyumas
Ada kedekatan serupa dupa-dupa maharaja
Juga duka-duka di tiap gigir musim yang semu
Menuntut segala serupa hanya awal dari ketakabadian
Bagi bangunan-bangunan hidup
Jalan-jalan makin jauh
Pohon-pohon berubah menjadi beton-beton megah
Pada tapak-tapak kaki kita; matahari tergambar begitu menganga
Dan terompet kehancuran bagi jiwa yang kehausan makin mega
Bagai kumpulan pulau-pulau yang tak wajar
Angin masih sama, menyerukan dingin sesaat
Menjatuhkan daun dari pucuk-pucuk randu dan ketapang
Dan ribuan domba berlendir menggerutu padanya; pada angin.
Bunga Pustaka, September 2009
YOSI M GIRI
Menjelang Sahur
Lampu-lampu dan damar belum saya matikan
Biarlah terang sementara malam
Saya kaget begitu TOA menyeru
Dan bedug bertalu-talu
Ibu menyuruh memasak hati
Meski dapur masih sepi dari api
Saya pun memaklumi diri
Ibu yang sedari sore hanya di pembaringan
Jangankan membeli daging,
Memasak nasi satu liter saja mesti dibagi empat kepala
Empat kali satu hari
Bertahun-tahun selalu begitu melulu
Lagi, lampu-lampu enggan saya matikan
Saya rasa, masih banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan
Sebelum denyar-denyar matahari semakin runyam oleh sejarah rekayasa.
Pemalang, 2009
YOSI M GIRI
Mencari Sinta dengan Mabuk
Bicaralah Sinta,
agar mabukku menggila
telah kuratakan gunung serta bukitan
yang hampar halang jalanku
tapi tak temu dirimu
Bicaralah Sinta,
agar aku dengar muasal suaramu
telah kutimbun samudera dengan bukit-bukit batu
dan batang-batang pohon jati juga randu
tapi mabukku makin gila
tahukah langit makin mendung karena dukaku
tahukah dewa-dewa di surga hampir kupancung nadinya
karena mata dan tangan mereka membiarkan Rahwana mencuri keelokanmu
Bicaralah Sinta,
paling tidak dengan hatimu
biar mabukku makin gila
Rumah Giri, November 2009
YOSI M GIRI
Kepada Waktu
biarkan aku mendustaimu
demi matahari yang telanjang lentang
tubuhku mungkin kembali dikutuk jadi batu
tapi janganlah jiwaku
sepasang telinga dan bibir bisa lain
sepasang mata dan telunjuk bisa salah menduga
tapi persetubuhan kitalah
yang melahirkan matahari kecil
dan melepas kutukan-kutukan bisu
kini biarkan aku mendustaimu
Pemalang – Purwokerto, Oktober 2009
YOSI M GIRI
Adalah Samudera
Hidup,
Ombak yang tak sekedar lambaian daun-daun manggar
Membentang dari subuh wajahMu hingga sunset serupa apel
Membawa botol-botol duka doa yang terus berdenyaran
Merambati parau perahu kita masing-masing
Dengarkah,
Bunyi keretak dari tubuh perahu kita yang semakin tua
Dan kerlingan anak-anak minta diselamatkan
Dan seringkali kita tangguhkan: “mereka masih harus dipangkuan ibunya”
Dan waktu berlalu dengan tudung ragu-ragu
Meski tak semegah buatan Nuh
Kulayarkan juga perahu itu menuju pusar arus
Semoga bertemu jiwaku
Bunga Pustaka, 2009
YOSI M GIRI
GEROMBYANG PEMALANG
potongan-potongan bambu serupa gelas menjadi tempat kuah panas
bersama daging-daging doa bagi perut yang lapar dan aroma laut utara
antar asin Tegal dan Pekalongan dan kibaran layar-layar nelayan
ada garis pantai yang sulit kujelaskan
garis yang menarik kaki gunung Slamet dan merisaukan segala apa yang di sampingnya
tak kupercaya daging-daging itu menyimpan kediaman yang terlalu
tubuh-tubuh serupa paku
dan pujangga-pujangga kampung yang menghitung setiap laku manusia
dalam deretan hari-hari naas atau malam yang baik untuk bercinta
dengan dayang-dayang, atau dengan kembang-kembang
yang terpaksa melayukan kuncupnya demi senyum Ayah-Bunda
demi kepingan dan kertas-kertas yang tak jelas makna ujungnya
gerombyang itu masih hangat,
dan ritual penghulu kampung mengunyah mantra
mengunyah senyum kanak-kanak yang terpaksa dewasa
antara kemenyan dan bau daging kambing
Bunga Pustaka, 2009
YOSI M GIRI
Di Pelataran RumahMu
sajak yang telah kucuri dari langitMu
tak juga menjelma hujan mawar
atau sekedar menawarkan segelas bening mataair
bagi peminta ridha di tengah malam yang gusar
bahkan sajak yang telah kuwarnai sembilan puluh sembilan namaMu
tak juga memberi cahaya bagi rerumputan
tak sepadan dengan daun gugur dan tunas yang Kau tumbuhkan
tanpa setahuku setiap waktu.
apa yang mesti kubicarakan pada mereka,
anak-anak yang tinggal di perut Ibu
bahkan sajak ini pun tak mampu meredam mata api mereka
haruskah kuberi doa pada tiap baris sajakku
agar tiap degup jantung lahir sebuah tanya tanpa koma
: Kekasih yang begitu rahasia
Pemalang, Maret 2009
Salam Indonesia, Selamat Datang di Padepokan Giri, semoga perjalanan maya Anda menyenangkan...
Selasa, 26 Oktober 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT
MENUJU KOMUNITAS SASTRA BERKUALITAS DAN BERMASYARAKAT
Oleh: Yosi M Giri
Komunitas sastra secara informal sebenarnya sudah ada sejak munculnya Balai Pustaka yang kemudian para anggotanya disebut Angkatan Balai Pustaka. Bahkan pada setiap periode, angkatan-angkatan tersebut terlahir dari sebuah komunitas yang dibentuk untuk kepentingan, yaitu mempublikasikan karya. Sedangkan keterlibatan para sastrawannya sendiri di butuhkan untuk mempertimbangkan estetika dan kualitas karya sastra. Komunitas sastra sebagai perkumpulan para penulis, penikmat dan pengamat karya sastra pada intinya memiliki garis kerja kreatif yang sama, di antaranya; penulisan karya, pembacaan atau publikasi karya, dan pembedahan atau apresiasi karya. Artinya, para penulis yang tergabung sebagai anggota di dalam sebuah komunitas akan terbantu dalam mengeksplorasi bentuk, estetika dan wacana kesusastraan. Namun untuk menopang wawasan serta kualitas karya sastra, seorang penulis haruslah memperbanyak bacaan. Sehingga referensi dalam setiap karyanya akan semakin kaya.
Dengan membaca buku-buku sastra, seorang penulis atau yang sedang belajar menulis akan peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan dunia kesusasteraan. Bahkan karya yang dihasilkan akan menyiratkan kedalaman pemikiran kreatornya, sebagai pandangan penulis terhadap kehidupan manusia di muka bumi. Kebutuhan-kebutuhan akan sumber bacaan ini tentu berkaitan juga dengan kualitas kesastraan yang dibincangkan dalam sebuah komunitas sastra. Oleh karena itu, bacaan-bacaan itu menjadi sangat penting bagi perkembangan komunitas serta para anggota di dalamnya.
Buku-buku seperti apa sajakah yang dapat membantu memperkembang wacana kesusasteraan sebuah komunitas? Selain buku-buku kesusasteraan, komunitas sastra juga perlu untuk mengoleksi buku-buku yang memiliki kedekatan serius dengan karya sastra Jenis-jenis buku yang mempunyai relevansi dengan karya sastra, antara lain; buku-buku filsafat, sejarah, psikologi, sosiologi dan buku-buku lain yang dapat memperkaya pemikiran seorang kreator atau penulis.
Mendirikan sebuah taman bacaaan memang bukan tanpa tantangan, bahkan dalam komunitas sastra sendiri. Komunitas sastra yang berdomisili di daerah-daerah terpencil maupun pedalaman akan menemukan kesulitan dalam hal penyediaan buku. Permasalahan lain yang muncul adalah mahalnya buku-buku yang dibutuhkan, serta keberminatan masing-masing anggota dalam membaca. Maka, kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan oleh setiap komunitas perlu didokumentasikan dalam bentuk tulisan. Sehingga diskusi-diskusi rutin yang dilaksanakan tidak sekedar didengar lalu dilupa. Sigmund Freud, dalam memperkenalkan teori psikoanalisisnya pun dapat kita tangkap kesan diary dalam buku-bukunya. Hal ini menjadi salah satu petanda bahwa manusia di manapun, dalam keadaan apapun, dalam bentuk apapun, dan siapapun semestinya menuliskan hasil pemikirannya. Agar catatan-catatan itu menjadi sumber pijakan atau pertimbangan bagi pengetahuan umat manusia berikutnya. Bahkan tulisan yang berupa skripsi, tesis, dan disertasi akan lebih bermanfaat ketika dibukukan, tentunya dengan mengedit bahasanya agar mudah dimengerti oleh semua kalangan pembaca. Hal ini sependapat dengan D. Zawawi Imron, penyair Celurit Emas dalam suatu essainya ‘Menggagas Budaya Tulis’ (Radar Banyumas, 19 November 2006) bahwa gagasan itu untuk mencerdaskan masyarakat agar bisa mendapatkan bacaan-bacaan ilmiah yang bermutu, daripada disertasi yang penting itu disimpan dan kemudian tidak ada manfaatnya.
Buku-buku sastra sekarang ini semakin mahal dengan naiknya harga kertas. Ini memang kebiasaan negara kita yang menghambat kecerdasan masyarakatnya. Tersedianya buku-buku murah seperti yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra lewat penerbitan Buletin, buku-buku dengan harga cukup seribu rupiah sangat membantu masyarakat yang tinggal di pedalaman.
Masalah lain yang muncul adalah minat baca masyarakat. Jika ditinjau dari beberapa aspek, masyarakat kita ini terdoktrin oleh media visual belaka. Sehingga tulisan-tulisan akan dibaca selintas lalu, dan itu artinya tidak akan ada ahli pikir yang dapat menjunjung martabat bangsa. Ini merupakan tanda kemunduran zaman melalui benda-benda modern. Padahal, zaman kerajaan pun membudayakan budaya tulis, sebagaimana kita ketahui karya-karya agung para empu itu hanya ditulis dengan lontar. Tapi kepekaan mereka akan manfaat dan pentingnya bacaan perlu direnungkan kembali.
Kepekaan ini pun semestinya menjadi salah satu pondasi bagi komunitas sastra yang memang berkutat pada kegiatan-kegiatan kreatif menulis. Sehingga ketakutan akan masyarakat yang buta aksara pun segera mendapat solusi. Disamping itu pemerintah pun perlu mempertimbangkan kembali permasalahan pendidikan, yang seharusnya bukan hanya mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mencerdaskan semua lapisan masyarakatnya.
Berangkat dari kompleksnya permasalahan di atas, komunitas sastra sudah semestinya mengambil tindakan alternatif yang memungkinkan tersedianya taman bacaan. Penyediaan buku-buku bacaan bagi anggota tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sumber dana tersebut paling sederhana adalah dengan iuran antar anggota untuk membeli buku-buku bacaan. Selebihnya berusaha mencari donatur yang peduli dengan permasalahan yang sama.
Pembelian buku secara peiodik juga dapat meringankan kas komunitas. Sehingga komunitas sastra pun akan memiliki perpustakaan mini yang dapat menopang kreatifitas para anggotanya. Perpustakaan mini akan membantu anggota komunitas yang sedang melakukan penelitian, pengkajian maupun masyarakat yang memiliki membutukan pengetahuan. Disamping itu, peran komunitas sastra dalam membudayakan budaya baca pada masyarakat sebagai upaya mencerdaskan masyarakat pun dapat direalisasikan.
Bunga Pustaka, 2008
3 komentar:
Selamat menikmati santapan sajak yang kutulis dengan tanpa henti...
puisinya bagus bagus pakkkk
saya jadi pengen bsa buat puisi seperti pak yos
hehehehe tapi saya belum menguasai bahasanya
gimana ya pak?????????
Untuk menguasai bahasa, kita harus rajin2 baca puisi-puisi sastrawan besar, nah,nanti kita akan mendapat kosakata baru yang dapat kita pergunakan untuk membuat puisi kita.
Poskan Komentar